Mengapa para penghafal Quran 'SUSAH' Implementasi hafalannya di masyarakat ?

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :






 Karena para penghafal Quran itu baru sampai di level 2 dari 5 level interaksi dengan Alquran.

Ada banyak mindset yang perlu diluruskan untuk menjawab pertanyaan di atas. Jadi, Saya coba perjelas ya. Dan mohon maaf jika penjelasannya panjang. Ini supaya pembaca bisa benar-benar paham secara mendalam mindset nya.
Anggaplah ada anak SD, SMP, SMA, S1, S2, dan S3. Secara umum, siapakah yang bisa menjelaskan dan mempraktekkan ilmu dengan lebih baik? Tentu urutannya dibalik kan?
S3, S2, S1, SMA, SMP, dan SD.
Mindset nya adalah makin tinggi level, makin tinggi kemampuannya dalam sebuah ilmu. Dan makin bisa menyelesaikan masalah spesifik dan berat di masyarakat.


Alias: kalau mau ahli dalam satu ilmu, harus sekolah setinggi mungkin. Itu mindset secara umum ya. Rasanya semua bakal setuju.
Begitu pula interaksi dengan Alquran. Ada MINDSET yang harus dipahami, tapi kebanyakan orang belum tahu. Ada level-level berinteraksi dengan Alquran.
Kira-kira begini mindset nya:
Generasi terbaik yang dimaksud di sini adalah para sahabat Nabi.
Jadi, dalam berinteraksi dengan Alquran, para sahabat Nabi memiliki 5 level.
Sementara kita di mana? Kita kebanyakan di level 1 atau 2. Stuck di sana. Ibaratnya, kita ini anak SD atau SMP, sementara para sahabat Nabi adalah PhD (S3).
Kita perjelas sedikit ya mindset dalam berinteraksi dengan Alquran.
LEVEL 1
Belajar baca Alquran. Dari yang tidak bisa membaca jadi bisa membaca. Lalu mereka mulai melafalkan Alquran. Contohnya adalah Umar saat pertama kali masuk Islam. Itu pertama kalinya ia berkenalan dengan Alquran.
Kalau kasus di negeri kita, itu adalah saat kita belajar Iqro, buku kecil untuk belajar Alquran itu, Kita mulai belajar dari Iqro 1, Iqro 2, dan seterusnya. Awalnya sih cuma bisa baca huruf hijaiyah, tapi lama-lama mulai bisa baca satu kalimat bersambung dalam bahasa Arab.
Singkatnya, belajar baca Alquran adalah level 1.
LEVEL 2
Setelah bisa baca Alquran, kita naik satu level lagi. Kita ingin bisa baca dengan lancar. Ini kita namakan tilawah.
Oh, ada satu lagi! kita mau bisa membacanya dengan baik. Jangan sampai i dibaca u dan seterusnya. Jadi, kita belajar ilmu cara membaca Alquran, namanya tajwid.
Setelah bisa baca dengan tajwid yang benar, kita juga mau menghafal! Kita pun semangat menghafal sampai 30 juz. Wuih luar biasa ya!
Kita bangga. Orangtua kita bangga. Para lawan jenis kagum, dikiranya kita orang paling soleh sedunia. Kebanyakan orang berpikir begini.
Tapi apa benar begitu? NO, kita masih di level 2. Masih ada 3 level lainnya yang tidak disadari orang banyak. Bitter truth nya adalah, para penghafal nggak tahu apa yang dibacanya. Hafal, tapi nggak paham apa makna bacaan Alquran nya.
Kita masuk ke level selanjutnya. Level yang lebih tinggi.
LEVEL 3
Sekarang bayangkan Anda sedang pergi ke UK dan masuk ke sebuah museum. Di sana ada sebuah sebuah buku panduan museum berbahasa Inggris.
Ada informasi barang apa saja yang dipasang di museum, ada informasi tentang rute yang harus dilewati supaya nggak tersasar, dan semacamya.
Gawatnya, kamu nggak ngerti bahasa Inggris. Gimana solusinya? Ada dua:
1) Kamu nanya guide museum itu tentang isi museum atau minta dianter
2) kamu jalan-jalan sendiri. Bakal nyasar-nyasar sih pastinya, tapi mau gimana lagi, wong gak paham bahasa Inggris. No clue.
Begitu analogi simpel dengan hidup. Buku guide museum itu adalah Alquran. Muslim memiiki mindset tersendiri tentang Alquran, yaitu sebagai guide nya dalam menjalani hidup.
Tapi Alquran dalam bahasa Arab, sementara kita memakai bahasa Indonesia. Apa yang kita lakukan? Ada dua opsi:
1) Tanya orang yang paham isi Alquran alias ulama
2) Menjalani hidup tanpa bimbingan Alquran, tapi bakal ngejedug sana-sini.
Sebenernya, ada opsi ketiga. Apa itu?
3) Belajar bahasa Arab. Supaya paham apa isi Alquran. Ketika paham arti Alquran, kita bisa nangkap apa guide Alquran itu apa.
Inilah level 3 interaksi muslim dengan Alquran. Kita belajar bahasa Arab, so kita bisa menerjemahkan isi Alquran.
Dalam kasus perjalanan ke UK, kita punya opsi ketiga sebenernya. Yaitu belajar bahasa Inggris sebelum pergi ke UK supaya kita bisa jalan dengan bebas di museum UK tanpa nyasar dan bisa menikmati museum itu dengan maksimal.
Setelah kita belajar menjerjemahkan, kita mulai bisa tahu bahwa artinya "ism" adalah "nama". Jadi "Bismillah" artinya adalah "Dengan nama Allah". Kira-kira seperti itu. Saat kita baca hafalan Alquran kita, kita juga tahu artinya.
Kita makin dekat untuk memahami Alquran.
LEVEL 4
Kalau mau masuk ke level yang lebih tinggi, level itu adalah tafsir. Modal terjemahan aja benar-benar nggak cukup untuk memahami Alquran. Perlu belajar ilmu tafsir.
Apa itu tafsir? Singkatnya,
"Tafsir adalah ilmu untuk memahami Alquran dengan menjelaskan makna-maknanya, mengeluarkan, atau menggali hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya"
Di sini biasanya memang sudah ranah ulama. Saya pernah dengar dari ahli tafsir Amerika, Nouman Ali Khan, kalau ia baru belajar 29 jenis tafsir.
Jangan dikira 29 jenis tafsir artinya 29 jilid. Bukan. Satu jenis tafsir, misalnya Tafsir Ibnu Katsir, ada 10 jilid (tergantung cetakan).
Sementara masih ada Tafsir Baghawi, Tafsir Thabari, Tafsir Jalalayn, Tafsir Hamka, dst. Kita kalikan saja dengan kasar, artinya Nouman Ali Khan belajar 290 jilid. Ketebalan satu jilidnya mungkin sekitar 1000 halaman.
Jumlah ilmu yang dipelajari Nouman tentu jauh lebih banyak.
Apalagi, ada bejibun ilmu yang menopang ilmu tafsir. Misalnya ilmu matan, ilmu sanad, ilmu linguistik, ilmu sastra Arab, dan seterusnya. Saya pribadi juga belum terlalu paham detail ilmu yang menopang tafsir.
Harus diakui level mempelajari tafsir ini jarang muslim yang bisa. Tapi kita tetep butuh ilmu tafsir. Makanya, sekarang sudah banyak cara belajar tafsir untuk orang awam macam kita.
Misalnya Nouman Ali Khan meluncurkan Bayyinah. Ada juga video-video tafsir pendek sekitar 5 menitan yang menjelaskan satu ayat.
Nouman selalu bilang bahwa dia sudah jauh jauh jauh menyederhanakan penjelasan tafsir satu ayat hingga cuma 5 menit penjelasan. Sebenarnya nggak mungkin menjelaskan makna ayat cuma dalam 5 menit. Kita akan kehilangan kedalaman maknanya. It's big loss.
Tapi, ini usaha Nouman untuk menjelaskan makna Alquran ke orang awam macam kita dengan cara segampang mungkin. Setidaknya, bisa dibilang ini ilmu pengantar tafsir gitu, lah…
Ada juga akun instagram [at]quranreview. Di sana dijelasin tafsir ayat dengan cara sangat populer dan anak muda banget. Orang yang super awam pun bisa paham.
Kira-kira begitulah metode [at]quranreview menjelaskan tafsir ayat. Yaitu mengambil contoh budaya populer, terus mengaitkannya dengan tafsir satu ayat.
Aslinya, penjelasan satu ayat itu bisa sangat mendalam. Kalau kamu baca langsung kitab tafsir pasti akan merasakan hal itu.
Satu ayat dibedah dari etimologi kata, sejarah kata, makna linguistik, tafsir dari Jibril, pemahaman langsung yang diberitahukan Nabi, praktek keseharian dari Nabi tentang ayat itu, praktek keseharian para sahabat, insight mendalam, dan seterusnya.
Inilah level 4. Sulit? Iya lah. Kan levelnya makin tinggi. Tapi ini bukan akhir. Mari kita masuk ke level tertinggi.
LEVEL 5
Tadabbur. Inilah level tertinggi dari interaksi dengan Alquran. Apa maksudnya? Bayangkan saja begini. Kamu berdiri di atas sebuah sumur. Sumur ini sangat dalam. Lalu kamu turun ke dasar sumur itu untuk mengambil airnya.
Berhasil! Kamu dapat airnya. Setelah kamu angkat air itu dari sumur, terlihat sekali air itu sangat jernih, sangat segar, dan sangat nikmat. Itulah analogi tadabbur.
Berkat skill set dalam ilmu tafsir yang kamu miliki, kamu bisa menggali makna Alquran sampai ke tingkat yang sangat dalam, sangat jauh, dan tak bisa dijangkau kebanyakan orang.
Karena memang itulah makna dari tadabbur. Simak pengertiannya berikut:
"Tadabbur adalah menalar, memikirkan, memahami, dan menggali sisi-sisi yang sangat jauh dan sangat mendalam dari sesuatu" (Imam Al-Zamakhsyari)
Makna dan guide kehidupan yang berhasil kamu ambil dari Alquran jernih tak terperi.
Pernahkah Anda berbicara dengan pakar di satu ilmu? Katakanlah Anda bertemu dengan pakar ilmu arsitektur yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Lalu, Anda memintanya untuk menjelaskan sebenarnya ilmu arsitektur itu apa.
Apakah dia akan menjelaskan arsitektur seperti di buku teks? Tidak sama sekali. Sebaliknya, ia akan menjelaskan ilmu arsitektur dengan storytelling sangat indah. Saya jamin Anda akan terbengong-bengong mendengarkan ia bicara. Satu jam pun tak terasa.
Daripada menjelaskan rumus cara membangun rumah, bisa jadi ia malah berbicara tentang peradaban manusia. Bahwa yang namanya bangunan itu melindungi manusia. Bangunan menjadi saksi cinta, tawa, tangis, dan pengkhianatan umat manusia. Arsitektur adalah simbol cinta dan perasaan umat manusia, dst.
Ketika para pakar berbicara, biasanya ada satu hal yang terjadi setelahnya: Anda akan terkagum dan lantas mencintai ilmu itu!
Saya beri contoh satu cerita tentang cara interaksi sahabat Nabi dengan Alquran - yang sudah saya parafrase.
Alkisah, saat itu Aisyah istri Rasulullah difitnah selingkuh. Madinah geger. Aisyah murung dan menangis di rumahnya. Abu Bakar sang ayah Aisyah pun sedih luar biasa. Ia tak percaya anaknya selingkuh, tapi mau bagaimana? Kabar selingkuh itu sudah tersebar seantero kota.
Tapi, yang paling membuat Abu Bakar marah justru adalah hal lain. Apa itu? Salah satu penyebar fitnah itu adalah sepupu Abu Bakar sendiri!
Jadi, ceritanya sepupu Abu Bakar ini adalah seorang lelaki miskin. Ia tak mampu menutupi kebutuhannya dan keluarganya sehari-hari. Sementara Abu Bakar adalah seorang yang baik hati.
Abu Bakar adalah pria kurus, ceria, ramah senyum, dicintai banyak orang, suka jadi tempat curhat para sahabat nabi yang lain, juga gampang bergaul, dan mudah memberi.
Bahkan, Rasulullah memberi testimoni bahwa Abu Bakar adalah umatnya yang paling menyayangi orang lain. Mungkin dalam soal kasih sayang, Abu Bakar hanya kalah dari Rasulullah.
Karena karakternya yang seperti itulah, Abu Bakar lantas memberi tunjangan bulanan ke banyak sekali orang. Iya, ibaratnya di masa sekarang, Abu Bakar membiayai hidup bulanan rumah tangga para orang miskin, saudara-saudaranya, sampai para anak yatim, dan juga para janda.
Misal Anda adalah janda dan memiliki gaji 10 juta, lalu Anda dipecat di masa COVID ini. Abu Bakar akan memberi tunjangan Rp10 juta per bulan kepada Anda -tentu saja tanpa meminta balasan apapun. Memang begini Abu Bakar. Dan yang diberi tunjangan itu sangat banyak. Makanya ia sangat dicintai orang-orang. Nggak heran ia menjadi sahabat nabi yang terbaik.
Lalu, apa hubungannya dengan fitnah Aisyah? Orang yang menyebarkan fitnah bahwa Aisyah berselingkuh, alias sepupu Abu Bakar sendiri, juga sebenarnya diberi tunjangan bulanan dari Abu Bakar!
Ibaratnya nggak tahu diri banget. Ini khilaf luar biasa. Udahlah diberi tunjangan, nusuk pula dari belakang. Malah nyebarin kabar nggak enak soal anak Abu Bakar. Nuduhnya nggak main-main pula: selingkuh!
Abu Bakar pun orang biasa. Ia marah besar. Lalu, ia bersumpah untuk berhenti memberikan tunjangan bulanan kepada sang pembawa fitnah. Di saat itulah ada ayat turun:
“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat An-Nur ayat 22).
Ketika turun ayat ini, Abu Bakar tersentak. Di sinilah tahap tadabbur bermain. Abu Bakar merasa Allah sedang berdialog dengan dirinya. Abu Bakar mengintrospeksi diri.
Apa yang Abu Bakar inginkan? Marah, lalu memuaskan amarahnya dengan memutuskan tunjangan bulanan, atau yang ia inginkan sebenarnya adalah ampunan Allah?
Abu Bakar memilih yang kedua. Ia berkata kira-kira:
"Aku lebih memilih ampunan Allah. Maka, demi Allah, aku takkan memutuskan tunjangan ekonomiku selamanya, sampai aku wafat!"
Abu Bakar memilih memaafkan sang sepupu yang menjadi salah satu penebar fitnah. Ia lebih memilih ampunan Allah. Inilah kira-kira level tadabbur. Abu Bakar memandang tiap ayat yang diturunkan itu berbicara tentangnya.
Btw, sang penyebar fitnah pun bertaubat kepada Allah
Tadabbur itu ada di tahap *wisdom*.
Sudah melihat contoh orang yang mencapai tadabbur dengan Alquran di atas? Kira-kira begitulah karakter mereka. Mereka memahami guide Alquran (tidak hanya hafal). Lalu Alquran mengubah mereka.
Maka, ketika Anda mengobrol dengan orang yang sudah memahami Alquran di tingkat tadabbur, Anda akan merasa seperti apa ya…seperti damai sekali berada di sisinya.
Ketika kamu bertanya masalah-masalah hidupmu, orang ini bisa memberikan perspektif solusi yang sama sekali tidak kamu sangka. Mind blowing. Kalau belum pernah bertemu dengan orang seperti ini memang sulit dijelaskan sih.
Sad news nya, mereka ini biasanya nggak ada di sorot lampu kehidupan. Mereka dalam diam mendidik masyarakat awam, jauh dari hingar bingar. Mereka anggap itu ditraksi di hidup. Sosok mereka sangat rendah hati dan damai.
Mereka tidak mau memamerkan ilmunya yang mendalam kecuali kamu bertanya ke mereka. Jadi, untuk menemukan orang-orang ini, kamu perlu menjelajah ke sudut-sudut kota maupun desa.
Mereka juga sayangnya jumlahnya sedikit. Sama seperti nature S3 yang jauh lebih sedikit dibanding anak SMP yang bejibun. Begitulah. Orang yang paham tafsir dan tadabbur Alquran itu sedikit. Sedangkan para penghafal Alquran jumlahnya banyak. Tapi orang yang baru belajar a ba ta tsa jauh lebih banyak lagi.

RINGKASAN MINDSET
Dahulu saya juga bertanya-tanya seperti pertanyaan di atas. Kenapa para penghfal Alquran kok banyak yang nggak mengamalkan Alquran yang ia hafal?
Setelah saya paham soal mindset dalam berinteraksi dengan Alquran, eureka! Saya paham. Ya, itu karena para penghafal Alquran memang baru di level 2. Sementara ada 5 level dalam berinteraksi dengan Alquran.
Tentu saja menghafal Alquran itu bagus. Saya tidak bilang itu buruk ya, jangan salah sangka. Untuk mencapai level 5 di tadabbur, tentu saja kita perlu melewati level 1 dan 2.
Yang dikritik di sini adalah orang-orang yang merasa puas karena sudah di level 1 (belajar baca Alquran) dan level 2 (bisa tajwid, tilawah, dan menghafal Alquran), tapi nggak mau belajar ke level yang lebih tinggi lagi.
Begini kesimpulannya. Ini adalah mindset bentuk interaksi kita dengan Alquran.
Sementara, yang dikritik adalah yang seperti ini:

FYI, ODOJ adalah singkatan dari One Day One Juz. Membaca satu juz Alquran tiap hari.

Sebentar, memangnya buruk ya kalau nggak mau belajar ke level 3 dan seterusnya? Bukannya buruk, tapi akan berpotensi ngejedug sana-sini di kehidupan kamu.
Sebab, esensi Alquran adalah guide kehidupan. Kalau kamu stuck di level 1 dan 2 saja, kamu nggak akan paham guide yang ada di Alquran.
Hafal sih iya, itu ada pahalanya juga. Tapi esensi Alquran sebagai guide kehidupan nya kamu malah nggak dapet. Begitu lho.
Nanti dalam praktek kehidupan, action kamu akan nggak make sense, gak sesuai sama guide Alquran. Karena kamu cuma hafal, tapi nggak paham esensi guide Alquran tentang kehidupan. Masalahnya adalah kamu pikir itu sesuai dengan Alquran karena ilmumu yang cetek.
Bahkan, orang yang "cuma" menghafal Alquran tapi nggak mau mempelajari Alquran inilah yang dikritik para ulama lho.
HAJR ALQURAN
Misalnya, ada sebuah istilah, yaitu Hajr Alquran. Artinya kira-kira orang yang meninggalkan/ mengabaikan Alquran.
Siapa mereka itu? kita simak saja definisinya dari para ulama. Perhatikan yang saya bold.
“Yang dimaksud dengan Hajr Quran adalah mengabaikan pemahaman (tadabbur) dan pengertian dari maksud Allah yang menurunkan Alquran” (Ibn Qayyim)
“Hajr Quran adalah meninggalkan tadabbur dan pemahaman terhadap Alquran” (Ibn Katsir)
Ada sebuah ayat Alquran yang mengkritik kebiasaan Bani Israil untuk jadi pembelajaran kita.
“Di antara orang Yahudi itu ada golongan yang tidak mengenal Taurat kecuali bacaannya saja, mereka tidak tahu apa maksudnya.” (Al-Baqarah: 78)
Tafsir ayat ini apa? Ini tafsir dari para ulama.
Mereka (bani Israil) itu buta pemahaman. Mereka membaca alkitab tapi tidak paham" (DR. Irsan Majid al-Kilani).
“Allah mengecam orang-orang yang mengubah kitab Nya sebagai orang yang tidak mengerti dari kitab itu selain tilawah (membaca kitab)” (Ibnul Qayyim)
Mereka tidak mengerti sedikitpun apa yang mereka baca” (Qatadah)
Singkatnya, Bani Israil ada orang-orang yang rajin membaca Taurat. Tapi ya sudah, mereka berhenti di membaca Taurat saja. Mereka nggak mau belajar isi Taurat apa sih sebenernya.
Mereka nggak tahu apa makna ayat Taurat yang mereka baca. Esensi Taurat sebagai guide hidup mereka akhirnya gak kesampaian karena mereka ogah belajar lebih jauh.
Sikap Bani Israil ini lah yang diberitahukan Allah kepada Nabi dan para sahabat. Allah mengkritik sikap itu dan memberitahukan kepada Nabi dan sahabat. Kira-kira kalau di bahasa kita beginilah,
"Jangan kayak Bani Israil ya. Mereka rajin baca Taurat tapi kagak paham isinya sebenernya apaan.
Jadi ya mereka cuman baca doang, tapi gak praktekin isi Taurat. Kok mereka nggak praktekin Taurat? Ya iyalah gimana mau praktek, wong mereka nggak ngerti sama sekali isinya.
Kalian para muslim jangan kayak mereka. Kalian harus mengintegrasikan semangat baca Alquran, semangat memahami isi Alquran, dan semangat mempraktekkan isinya"
SHOHIBUL QURAN
Jika ada yang namanya Hajr Alquran (orang yang mengabaikan Alquran), maka ada juga yang namanya Sohibul Quran. Jujur, saya sebenernya belum paham arti dari Shohibul Quran. Tapi tampaknya adalah "Sahabat Alquran". Buat temen-temen yang paham bahasa Arab, tolong koreksi saya ya.
Jadi, intinya Shohibul Quran adalah kebalikan dari Hajr Alquran. Siapa sih Shohibul Quran ini? Perhatikan yang saya bold:
"Shohibul Alquran adalah orang yang memahami Alquran dan mengamalkan isinya. Sekalipun dia tidak hafal Alquran di luar kepala.
Sedangkan orang yang menghafal Alquran tapi tidak mengerti dan tidak mengamalkan isinya, dia bukanlah Shohibul Quran.
Meskipun dia bisa membacanya dengan sangat baik, sebaik membidik sasaran dengan anak panah yang lurus"
(Ibnu Qayyim di kitab al-Fawaid)
Jangan salah sangka. Saya hanya mengutip apa yang disampaikan Ibnu Qayyim. Dan bukan pula saya merendahkan para penghafal Alquran. Seperti yang sudah saya tulis di atas, menghafal Alquran tentu berpahala besar.
Tapi menjadi Shohibul Alquran adalah dua hal yang berbeda. Singkatnya, untuk menjadi Shohibul Alquran, syaratnya adalah memahami Alquran dan mengamalkan isinya. Menghafal Alquran bukan termasuk syaratnya.
Jadi jangan dipahami bahwa dengan membaca dan menghafal Alquran otomatis menjadi shahibul Quran. Nggak. Itu dua hal yang berbeda. Memang para Shahibul Quran adalah orang-orang yang belajar tafsir serta tadabbur.
Tapi jangan juga berpikir, "Kalau gitu gak usah menghafal Alquran dong!" Ya nggak gitu juga Bhambang. Jangan suka membenturkan dua hal yang nggak perlu dibenturkan gitu, dongsss say..
Cara berpikir yang benar itu bukan membenturkan, tapi berpikir dalam bentuk anak tangga. Kita step by step naik dari level 1 sampai level 5. Begituh, brok..
KESIMPULAN
Mohon maaf kalau kepanjangan. Ini sih bisa jadi artikel sendiri ya. Udah lama juga hiatus dari Quora. Ini jawaban pertama saya lagi di sini.
So, kita balik ke pertanyaan di atas:
"Mengapa para penghafal Quran tidak bisa mengimplementasikan hafalannya pada masalah-masalah di masyarakat?"
Jawaban:
Yaiyalah brooo Bhambhaang, kan mereka baru sampai tahap menghafal Alquran. Baru sampai di level 2 dari 5 level.
Mereka nggak tahu isi hafalan mereka sebenernya apaan. Apa sebenernya tafsir, meaning, dan guide hidup apa yang ada di ayat itu.
Para penghafal Alquran belum paham itu semua. Mereka perlu belajar terjemahnya (level 3), tafsirnya dahulu (level 4) dan tadabbur nya dahulu (level 5).
Setelah paham baru bisa mereka praktekkan untuk solving problem masalah-masalah di masyarakat.
Ribet amat sih!
Lha, emangnya lo berharap anak SMP bisa nyelesaikan masalah tata kota yang semrawut di Jakarta? Nggak kan?
Lo berharap nya ke lulusan S2 atau S3 tata kota lah. Nggak waras kalau lo berharap anak SMP bisa selesaikan masalah pelik seperti tata kota semrawut.
Dan sayangnya, di mana-mana S3 selalu jauh lebih sedikit dibanding jumlah anak SMP yang pabalatak pisan.
PR nya adalah: ayo perbanyak para muslim yang paham tafsir dan tadabbur Alquran supaya bisa selesaikan masalah di masyarakat. Beneran lho ini.
So, buat para muslim, step by step cobalah naik level. Mulai dari level 1 (belajar baca Alquran), level 2 (tilawah, tajwid, dan menghafal Alquran).
Jangan stuck di sini. Naik lagi ke level 3 (belajar bahasa Arab), level 4 (belajar tafsir Alquran), dan level 5 (tadabbur Alquran).
Yang dikritik Allah dan para ulama adalah ketika kita berhenti di level 2 dan malas belajar ke level berikutnya. Memang nggak mudah masuk ke level 3, 4, dan 5. But keep struggling.
Bersusah payah belajar Alquran pahalanya besar banget.
PROFILING SALAH SATU PENTAFSIR ALQURAN TERBAIK
Setelah Anda membaca tulisan yang sangat panjang di atas, mungkin Anda bertanya-tanya. Terus gimana sih sebenernya profile pentafsir Alquran? Misalnya nih ada seseorang yang sudah mencapai level tadabbur Alquran. Dia ini orang yang kayak gimana?
Di sini, saya akan coba mengutip sosok Ibnu Abbas. Siapa pula Ibnu Abbas? Ia adalah sahabat nabi. Ia masih sangat muda ketika Nabi wafat. Saya tidak tahu berapa persisnya, tapi kira-kira masih di umur belasan. Tapi di umurnya yang masih muda, ia adalah salah satu penafsir Alquran terbaik.
Alasan saya menampilkan sosok Ibnu Abbas di sini untuk menjadi gambaran kira-kira beginilah orang yang sudah mencapai tadabbur Alquran. Kita lihat seperti apa sosok Ibnu Abbas berperan menjadi problem solver di masyarakat.
Ini sebagai inspirasi saja. Bukan berarti Anda harus menjadi seperti Ibnu Abbas. Ini juga bisa menjadi semacam map untuk Anda ketika bertemu dengan sosok penghafal Alquran.
Apakah ia mirip-mirip sosok Ibnu Abbas yang menjadi problem solver? Atau paling tidak ia sedang berjuang menuju level sosok Ibnu Abbas?
Atau sebaliknya, ia adalah sosok yang toxic? Dan sama sekali jauh dari gambaran profiling Ibnu Abbas? Anda bisa memetakannya.
Ok langsung saja, jadi seperti apa sih sosok Ibnu Abbas?
Ia memiliki dua julukan di kalangan para sahabat Nabi yang lain. Julukan pertama adalah al-hibr (ulama) dan kedua al-bahr (samudera). Kok dijuluki samudera? Yup, itu karena ilmunya yang sangat mendalam bagaikan samudera.
Pada umur 17 tahun, jadi penasihat negara di zaman Umar. Zaman sekarang ya mungkin seperti stafsus presiden atau menteri. Bedanya, orang ini masih anak kelas 2 SMA. Ibnu Abbas juga sering hadir di forum kenegaraan dengan anggota forum sahabat senior.
Ini karakter Ibnu Abbas yang saya kumpulkan dari testimoni para sahabat Nabi lainnya.
  1. Pemuda yang paling cemerlang
  2. Paling baik perilakunya
  3. Berusia muda tapi dewasa dalam berpikir
  4. Punya lisan yang gemar bertanya
  5. Punya akal yang gemar berpikir
  6. Paling cepat mengerti persoalan
  7. Paling tajam pikirannya
  8. Paling banyak menyerap ilmu
  9. Memiliki akal yang cepat paham
  10. Memiliki pikiran yang cerdas
  11. Paling tampan
  12. Paling fasih bicaranya
  13. Orang yang paling pintar
  14. Menguasai puisi dan prosa
  15. Perbendaharaan kosakatanya banyak sekali
  16. Mengetahui sejumlah ilmu yang para sahabat lain tidak ketahui
Bagaimana rasanya jika Anda berteman dengan orang seperti itu, plus tentu saja ilmu agamanya tentang Alquran sudah mencapai level tadabbur?
Seorang murid Ibnu Abbas yang bernama Thawus pernah bercerita. Perhatikan yang saya bold:
“Aku mengenal lebih dari 500 orang sahabat nabi. Jika mereka berbeda pendapat, Ibnu Abbas selalu berusaha untuk meyakinkan mereka terkait pendapatnya.
Hingga pada akhirnya mereka semua setuju dengan pendapatnya itu”
Ok, orang macam apa yang bisa meyakinkan 500 orang dalam waktu singkat? Apalagi, level 500 orang itu bukan orang-orang sembarangan.
Leadership macam apa yang Ibnu Abbas miliki? Seluar biasa apa logic nya? Sekuat apa kemampuan argumentasinya?
Sebenarnya, sepak terjang Ibnu Abbas di masyarakat banyak sekali. Kalau saya tuturkan semuanya, tentu akan sangat panjang. Saya akan coba paparkan satu kisah saja.
Alkisah, saat itu di zaman Ali bin Abu Thalib terjadi perpecahan. Banyak orang yang keluar mengkhianati Ali bin Abu Thalib. Mereka berkumpul di satu tempat. Situasi politik memanas. Kemudian Ibnu Abbas mengajukan diri kepada Ali untuk membawa mereka kembali.
Mulanya, Ali khawatir mereka akan membunuh Ibnu Abbas. Tapi Ibnu Abbas tenang saja. Ini kata beliau:
"Aku lalu memakai pakaian yang bagus dan berdandan. Aku sampai di daerah mereka pada waktu tengah hari"
Di penuturan versi lain, Ibnu Abbas berkata,
“Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.”
Jadi singkatnya, Ibnu Abbas memakai baju bagus, bersisir, dan memakai parfum yang sangat wangi, lalu menemui mereka. Ketika Ibnu Abbas sampai, ia kaget.
Orang-orang ini adalah orang-orang yang kusut masai, bajunya kotor, wajahnya kotor. sayu, dst. Pokoknya penampilan mereka amburadul. Tidak, bukan karena mereka miskin.
Kalau mereka berpenampilan begitu karena mereka miskin, itu soal lain. Pasti Ibnu Abbas akan datang membawa bekal makanan dan pakaian untuk dibagikan ke mereka.
Masalahnya, itu karena pemahaman mereka yang salah soal Alquran. Anda akan paham segera apa yang saya maksud. Kita akan melihat dialog antara mereka dan Ibnu Abbas. Saya sudah parafrase kan agar lebih mudah dimengerti.
Ibnu Abbas datang dengan pakaian yang sangat bagus, jubah yang bersih dan rapi. Ia pun bersisir dengan sempurna. Wanginya pun semerbak. Yah, kalau zaman sekarang, bayangkan saja sosok pria fashionable. Seperti itu lah gambaran Ibnu Abbas waktu datang kepada orang-orang ini. Sangat kontras dengan keadaan mereka yang acakadul.
Melihat itu, mereka pun mengejek Ibnu Abbas. Katanya, Ibnu Abbas tidak zuhud terhadap dunia. Di sini Ibnu Abbas menangkap kecacatan cara berpikir mereka. Mereka berpikir diri mereka lah yang zuhud.
Mereka pikir zuhud adalah berpenampilan amburadul dan kotor. Makin amburadul penampilan, makin zuhud dan makin islami lah dia.
Kok mereka bisa berpikir begitu? Begitulah jika tidak mau belajar tafsir dan tadabbur. Action nya akan nggak make sense. Apakah sekarang masih ada yang berpikir gini? Buanyakkk bhambhaang..mereka nggak tahu saja seperti apa Ibnu Abbas itu.
Mendengar itu, Ibnu Abbas dengan santai skak mat mereka dengan ayat berikut:
"Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat". Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui." (Al-Araf:32)
Mereka salah berargumen seperti itu. Kenyataannya, Allah sendiri membolehkan perhiasan yang bagus.
Dalam bahasa sehari-hari, kira-kira Allah bilang gini, "Emang siapa deh yang berani mengharamkannya? Aku aja ngebolehin kok"
Cukup? Belum. Ibnu Abbas mengeluarkan argumen kedua.
"Mengapa kalian menganggap aib apa yang kupakai ini? Aku pernah melihat Rasulullah memakai pakaian dan perhiasan yang sangat bagus" (Ibnu Abbas)
Mereka nggak mau belajar, jadi berpikir kalau penampilan amburadul bagian dari Islam. Makin amburadul, makin islami? Wrong. Allah memerintahkan sebaliknya. Rasulullah pun memakai pakaian rapi. Para sahabat pun menirunya.
Esensi dari dialog ini bukan cuma soal pakaian saja, tapi pemahaman keliru yang timbul dari kemalasan belajar agama. Akhirnya action nya juga jadi rada-rada ngaco. Soal pakaian ini memang tidak terlalu membahayakan. Tapi kan ada juga satu lagi sikap mereka yang berbahaya, yaitu mengkhianati Ali dan keluar dari barisan muslim waktu itu. Ini membuat situasi di masyarakat jadi tidak stabil. Akarnya dari mana? Dari kemalasan mereka belajar.
GImana kelanjutannya? Sebenarnya ada dialog panjang yang terjadi antara mereka dan Ibnu Abbas. Tapi tak saya cantumkan di sini -nanti akan sangat panjang.
Berkat pemikiran cerdas Ibnu Abbas, sebagian dari mereka pun kembali ke barisan Ali. Awalnya mereka berjumlah 6000 orang, setelah argumen mereka dipatahkan satu demi satu oleh Ibnu Abbas, 4000 orang dari mereka kembali - kalau tidak salah.
Sisa 2000 orang inilah yang kepala batu dan diperangi oleh para sahabat nabi yang lain.

Inilah mengapa orang yang ada di level tadabbur sangat bisa membantu jadi problem solver di masyarakat. Sebab, ia dipandu oleh ilmu tadabbur Alquran nya. Action nya jadi tajam, tindakannya make sense, dan jadi pemecah banyak problem di masyarakat.
Sadly, memang kebanyakan muslim di level 1 dan 2 saat ini. Banyak yang bahkan belum bisa baca Alquran. Sebagian lagi semangat menghafal, tapi malas belajar makna Alquran. Ya honeslty belum bisa jadi problem solver masyarakat. Kebanyakan masih ada di level 1 dan 2.
So, semangat belajar terus ya!
REFERENSI
Sudah hampir 5000 kata. Kita sudahi sampai di sini ya.
Materi jawaban ini adalah ringkasan dari kurang lebih 6 jam video Youtube penuturan Ust Asep Sobari tentang Interaksi dengan Alquran.
FYI, Ust Asep Sobari saat ini adalah Direktur Pelaksana INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations).
Materi ust Asep Sobari ini disampaikan saat Ramadhan 2020 kemarin. Sebenernya masih banyak poin yang nggak saya masukkan di jawaban ini. Ini sudah saya ringkas.
Kok link youtube nya nggak saya share di sini? Soalnya sama penyelenggara nya, videonya masih unlisted. Nanti kalau sudah dibuat public saya tambahkan ya link nya di sini.
Akhir kata, mohon maaf kalau kepanjangan (emang kepanjangan sih). Terima kasih telah sabar membaca sampai akhir.






Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Mengapa para penghafal Quran 'SUSAH' Implementasi hafalannya di masyarakat ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini