Sejarah Lengkap Terbentuknya Kerajaan-kerajaan Di Jazirah Arab

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :






Pertanyaan: Bagaimanakah sejarah terbentuknya kerajaan-kerajaan di Jazirah Arab?

Pertama-tama kita pastikan dulu pengertian kita untuk Jazirah Arab. Jazirah = Semenanjung Besar. Bahasa Inggris-nya Arabian Peninsula. Berarti ini hanya mencakup sebagian kecil dari negara-negara Arab. Peta-nya di bawah ini:


Pertanyaannya hanya mencakup kerajaan-kerajaan, berarti kita tidak akan membahas sejarah dari republik di jazirah Arab, yaitu Irak dan Yaman.
Berikut ini adalah list monarki yang ada di Jazirah Arab, saya sertakan ringkasan super pendek (jawaban tl:dr) dari pertanyaan di atas:
  1. Kerajaan Arab Saudi: setelah Ottoman runtuh, klan al-Saud yang dipimpin Abdulaziz al-Saud berhasil menguasai wilayah interior Jazirah Arab termasuk Diriyah, Hejaz (termasuk Mekkah dan Medinah), dan Nejd. Berdiri 1932.
  2. Negara Kuwait: daerah strategis perdagangan ini sudah dipegang oleh dinasti al-Sabah (dari bani Utbah) sejak abad 18. Kebanyakan sejarahnya negara ini menjadi protektorat Inggris sampai merdeka di tahun 1961 dan sekarang merupakan sekutu dekat AS.
  3. Kerajaan Bahrain: negara pulau ini dikuasai oleh dinasti al-Khalifa (dari bani Utbah) sejak abad 18, lalu menjadi protektorat Inggris (Trucial States). Inggris membubarkan Trucial States di tahun 1968, jadi sheikdom-sheikdom Teluk Persia sepakat membentuk Uni Emirat Arab yang dipimpin Abu Dhabi. Bahrain tidak sepakat, jadi merdeka sendiri sebagai kerajaan pada 1972.
  4. Negara Qatar: semenanjung Qatar sudah dikuasai oleh dinasti al-Thani sejak abad 19. Sama seperti Bahrain, sheikh al-Thani membuat traktat dengan Inggris untuk menjadi protektorat. Karena Trucial States dibubarkan Inggris pada 1968, Qatar menolak bergabung dengan UAE, pada 1971 Qatar merdeka sebagai negara sendiri.
  5. Uni Emirat Arab: kumpulan dari sheikdom-sheikdom yang tadinya (beberapa) adalah bajak laut. Untuk mengamankan jalur perdagangan Teluk Persia, Inggris berupaya mengkooptasi sheikdom-sheikdom ini sehingga bisa dibuat perjanjian untuk mereka menjadi protektorat (Trucial States). Inggris membubarkan Trucial States ini pada 1968, sheikh Abu Dhabi (al-Nahyan) berinisiatif mengajak sheikdom-sheikdom lain untuk bergabung menjadi UAE. Akhirnya semua mau kecuali Bahrain dan Qatar.
  6. Kesultanan Oman: pecahan dari Khawarij yaitu Ibadi yang beraliran moderat mendirikan imamat mereka di Oman. Wilayah ini dipimpin oleh dinasti al-Said sejak abad 18. Menjadi protektorat Inggris sejak 1798 sampai merdeka 1951.
  7. Kerajaan Hasyimiyah Yordania (sebagian wilayahnya ada di Jazirah Arab): di PD I Inggris berjanji kepada sharif Mekkah Hussein bin Ali untuk membentuk kerajaan di Jazirah Arab dan Levantine asalkan mereka mau memberontak terhadap Ottoman (Arab Revolt). Kenyataannya, al-Saud yang berhasil menguasai Jazirah Arab termasuk Hejaz , sehingga Inggris akhirnya memberikan Trans-Yordan (menjadi Yordania) dan Irak kepada putra-putra Hussein.
JAWABAN LENGKAP (udah disingkat sebisanya dari banyak artikel di Wikipedia English). Yang baca sampai bawah akan saya kasih bonus!😁
1. Kerajaan Arab Saudi (al-Mamlakah al-Arabiya as-Saudiya)
Kerajaan terbesar dan paling kuat di Jazirah Arab, bahkan mungkin di seluruh dunia muslim. Arab Saudi dipimpin oleh dinasti al-Saud.
Klan al-Saud adalah klan Beduin asli dari daerah Diriyah di Jazirah Arab. Al-Saud ini mulai tercatat pada waktu kepala sukunya Muhammad bin Saud bergabung dengan ulama Muhammad bin Abdul Wahab, seorang ulama kharismatik Salafi, dan melakukan penaklukan atas wilayah dari klan-klan lain. Akhirnya terbentuklah negara Saudi pertama yang disebut Emirat Diriyah pada 1744.
Pada waktu itu Imperium Ottoman (Utsmaniyah) adalah penguasa Timur Tengah. Tapi Ottoman hanya menguasai daerah Hejaz di pesisir Barat karena nilai strategisnya yang menghadap Laut Merah dan keberadaan dua kota suci Islam yaitu Mekkah dan Medinah. Sebagian besar Jazirah, khususnya daerah gurun di tengah yang dikuasai berbagai suku-suku kuno dan bertarung satu sama lain, tidak bisa dikendalikan oleh Istanbul. Di vakum inilah Emirat Diriyah lahir.
Waktu Emirat Diriyah diperintah oleh anak Muhammad yaitu Abdulaziz, dia membawa bala tentara Wahabi-nya menyerang kota suci umat muslim Syiah, yaitu Karbala (sekarang di Irak) dan membantai lebih dari 2000 penganut Syiah. Ottoman yang memandang dirinya sebagai pelindung semua iman di seluruh wilayahnya, memutuskan bahwa al-Saud harus ditumpas. Jadi di masa pemerintahan cicit Muhammad yaitu Abdullah, pasukan Ottoman dari Mesir menginvasi Emirat Diriyah. Abdullah dibawa ke Constantinople dan dipenggal di sana pada 1818. Emirat Diriyah pun hancur.
Tapi dinasti al-Saud belum habis. Pada 1821 mereka berhasil membuat negara kedua yaitu Emirat Nejd dengan ibukota Riyadh. Tidak seperti Emirat Diriyah yang agresif, Emirat Nejd tidak banyak melakukan ekspansi karena secara internal sejarah mereka dipenuhi dengan perang saudara dan perebutan kekuasaan. Karena keluarga Saud saling bertikai, salah satu klan bawahan (vassal) yaitu al-Rashid mencuri kesempatan dan merebut Riyadh dari tangan al-Saud, dengan demikian mengakhiri negara Saudi kedua.
Belakangan di PD I, terjadi apa yang disebut Arab Revolt. Sharif Mekkah yaitu Hussein al-Hasyimiyah memilih memihak pada Inggris dan memberontak melawan Ottoman, dengan harapan bisa menjadi raja atas Hejaz. Di saat-saat ini, al-Saud tidak ikutan Pemberontakan Arab (Arab Revolt) yang dipimpin Hussein karena masih sibuk berperang dengan al-Rashid. Al-Rashid berhasil dikalahkan pada 1921 dan sejak itu al-Saud makin banyak menguasai daerah di Semenanjung Arab. Tahu-tahu Sharif Hussein sudah terdepak dari Mekkah, dan kemudian Inggris dan AS memilih nge-deal dengan pemimpin al-Saud, yaitu Abdulaziz bin Abdul Rahman al-Saud. Karena Inggris udah keburu janji dengan al-Hasyimiyah, jadi kakak-beradik anak Sharif Hussein diberikan Trans-Yordan (sekarang Yordania) dan Irak (dibahas di bagian Yordania dan Irak).
Sejak itu, Abdulaziz al-Saud menjadi raja Kerajaan Arab Saudi yang pertama, negara yang terbentuk pada 1932. Sejak Abdulaziz, raja-raja Saudi yang berikutnya selalu adalah putra dari Abdulaziz untuk menjaga konservatisme Wahabi yang menjadi karakteristik Islam di situ. Secara kebijakan luar negeri, Arab Saudi bersekutu akrab dengan AS untuk memastikan keamanannya dari serangan negara asing.
Raja Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota Mohamad bin Salman / MBS. MBS adalah tokoh paling berkuasa di Arab Saudi saat ini.
2. Negara Kuwait (Daulat al-Kuwait)
Sebagaimana kita lihat di peta, posisi geografis Kuwait berada di sudut pangkal dari Teluk Persia, posisi yang strategis dalam perdagangan internasional di perairan itu.
Awal sejarahnya dari tahun 1613 di mana desa nelayan Kuwait didirikan oleh konfederasi Bani Khalid. Desa nelayan inilah yang sekarang bertumbuh menjadi kota metropolitan Kuwait City. Masuk ke awal abad 18, Bani Khalid mendapat pesaing Bani Utbah/Utub yang bermigrasi dari Nejd. Kuwait akhirnya berhasil direbut oleh bani Utbah setelah kematian dari pemimpin bani Khalid yaitu Sheikh Barrak bin Urair. Di dalam Bani Utbah ada tiga klan, yaitu al-Khalifa, al-Jalahimah dan al-Sabah. Pada 1766 al-Jalahma dan al-Khalifa bermigrasi ke Zubarah (Qatar) sehingga Kuwait dipegang sepenuhnya oleh klan al-Sabah.
Karena posisi penting Kuwait dalam perdagangan internasional dari India, Teluk Persia, sampai Constantinople, Kuwait adalah city-state yang dikuasai oleh klan-klan saudagar. Para saudagar ini memilih seorang dari klan al-Sabah bernama Abu Abdullah Sabah I bin Jaber al-Sabah sebagai emir mereka. Jadi sampai sekarang, secara turun temurun al-Sabah bertanggung jawab untuk menjalankan perpolitikan, diplomasi dan pertahanan, dengan jaminan bahwa perdagangan para klan-klan ini berjalan lancar dan uang mengalir masuk untuk semua. Karena Inggris yang diwakili Kumpeni Hindia Timur Inggris menguasai perairan dan jalur perdagangan dari India, maka al-Sabah menjalin hubungan erat dengan Inggris, menjadi wilayah protektoratnya.
Kemakmuran Kuwait sebagai hub perdagangan disumbang juga oleh kekacauan di kota Basra, Irak. Tadinya Basra adalah hub perdagangan dari Teluk Persia. Tapi karena Imperium Ottoman pada abad 18 mulai merangsek ke arah Teluk Persia dan menginvasi Basra, banyak saudagar-saudagar Arab dari Basra yang lari/bermigrasi ke Kuwait dan melanjutkan bisnis mereka di sana.
Selain kaya karena perdagangan, Kuwait juga kaya sebagai penghasil mutiara dan pengekspor kuda. Selain itu Kuwait juga dikenal sebagai penghasil kapal-kapal dagang berkualitas terbaik dan pelaut-pelaut paling ulung di Teluk Persia. (Itu makanya lambang Kuwait ada gambar kapal laut). Ditemukannya minyak di Kuwait sangat meningkatkan kekayaan Kuwait, terutama pada abad 20.
Dengan kondisi di atas, Kuwait secara alami menjadi kota metropolitan yang maju. Dari seluruh Arab di jazirah, Kuwait adalah yang paling maju, paling liberal, paling cepat mengadopsi cara hidup dan teknologi Barat. Pada era sheikh Mubarak di akhir abad 19-awal abad 20, Kuwait dijuluki "Marseilles-nya Teluk Persia".
Walau begitu, perekonomian Kuwait beberapa kali mengalami kemerosotan cukup parah, yaitu waktu PD I karena sheikh Mubarak al-Sabah berpihak pada Ottoman, pada waktu terjadi Depresi Besar di AS dan Eropa pada 1930an, dan pada waktu kejatuhan harga saham di tahun 1980an.
Perjanjian protektorat dengan Inggris berakhir di tahun 1961 dan Kuwait menjadi negara merdeka di bawah pimpinan emir Abdullah al-Salim al-Sabah. Konstitusi dibuat, parlemen dibentuk dan pada 1963 mereka mengadakan pemilu untuk memilih parlemen. Kuwait menjadi negara semi-demokratis dengan kebebasan pers paling besar di seluruh Teluk Persia.
Secara geopolitik, Kuwait memiliki mindset yang mirip dengan Qatar, Bahrain, dan UAE, yaitu bersekutu dengan kekuatan asing dan lokal yang lebih kuat, dalam hal ini Amerika Serikat dan Arab Saudi. Dengan adanya Revolusi Islam Iran ancaman terkini adalah Iran. Maka Kuwait bergabung dengan GCC dan mendukung Sadam Hussein di Perang Iran-Irak. Setelah Sadam menginvasi Kuwait pada 1990, otomatis AS turun tangan menolong Kuwait dan terjadilah Perang Teluk.
Kalau Saudi, Bahrain dan UAE lebih agresif dalam menangkal Iran, Kuwait mengambil jalan berbeda. Mungkin karena tradisinya sebagai negara saudagar, Kuwait lebih cenderung jadi peacemaker dan mengedepankan dialog dengan Iran maupun Qatar, sepanas apa pun situasinya.
Emir Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah
3. Kerajaan Bahrain (Mamlakat al-Bahrain)
Bahrain adalah negara pulau kecil di Teluk Persia yang kaya karena berada di jalur perdagangan internasional yang strategis di Teluk Persia dan sebagai penghasil mutiara. Sejak abad pertengahan Bahrain menjadi perebutan antara Persia, Portugis, Oman, Inggris dan tentunya konfederasi klan-klan Arab bernama bani Utbah/Utub.
Portugis menguasai pulau Bahrain sekitar abad 16, kemungkinan memerintah lewat sheikh-sheikh lokal. Tahun 1602 Portugis terusir dari Bahrain karena 2 hal: 1. Pemberontakan yang dipicu oleh perintah eksekusi gubernur terhadap saudagar-saudagar terkaya (dan berpengaruh) di pulau itu. 2. Persaingan dengan kuasa kolonial lain. Dengan minggatnya Portugis, vakum kekuasaan segera diisi oleh Persia di bawah Shah Abbas I dari Imperium Savafiyah (Safavid).
Persia menaklukan Bahrain dengan cara soft power, yaitu perluasan agama, ideologi dan filosofi. Bahrain jadi mayoritas beragama Islam Syiah dari mazhab utama yaitu mazhab 12 (Twelver). Selama abad 17 Bahrain berkembang sebagai pusat intelektual teologi. Kekuasaan Persia di Bahrain jadinya didukung penuh oleh kalangan ulama Syiah. Walaupun ini jadinya seperti senjata makan tuan juga, karena Syiah di Bahrain malah jadi berkembang ke mazhab Akhbari yang lebih tunduk pada ulama daripada penguasa politik (Safaviyah sendiri mazhabnya adalah Usuli). Ulama Bahrain saat itu jadi punya kekuasaan lebih besar daripada tuan tanah.
Dari sini kita jadi paham kenapa Bahrain rakyatnya mayoritas Syiah.
Selama abad 18 ganti-ganti penguasa lagi dari Safaviyah ke Oman ke Persia lagi (kali ini dinasti Qajar). Di akhir abad 18 perang terjadi antara Persia di Bahrain dengan bani Utbah yang menguasai kota Zubarah di Qatar. Waktu itu Zubarah dikuasai klan al-Khalifa, salah satu anggota bani Utbah. Bani Utbah memenangkan perang ini dan klan al-Khalifa jadi menguasai Bahrain, memindahkan pusat pemerintahannya ke Bahrain.
Masuk abad 19, Inggris adalah kuasa kolonial paling kuat di Teluk Persia. Selama abad 19 ini penguasa al-Khalifa mempertahankan kekuasaannya di Bahrain dengan cara mengadu kuasa-kuasa politik yang lebih kuat satu sama lain, yaitu Mesir (di bawah penguasanya Mohammad Ali Pasha), Qajar Persia, Ottoman, dan tentunya Inggris. Akhirnya pada 1892 Bahrain resmi berstatus protektorat Inggris dalam Trucial States. Artinya mereka punya otonomi memerintah diri sendiri dengan hukum sendiri, tapi Inggris punya wewenang ikut campur dan tidak boleh ada teritori yang diberikan kepada penguasa lain tanpa seijin Inggris. Soal pertahanan dari serangan luar dan hubungan luar negeri diserahkan ke Inggris.
Sejak saat itu Bahrain menjadi daerah yang kosmopolitan. Lokasinya yang strategis untuk perdagangan internasional membuat berbagai macam orang bisa hidup berdampingan di sana dengan liberal: Sunni, Syiah, Arab, Persia, Yahudi, India, dll, kontras dengan daerah Arab Tengah yang lebih konservatif dan kaku karena pengaruh Wahabisme. Selain itu, mutiara juga membuat daerah ini kaya. Belakangan kemakmuran ini ditambah dengan ditemukannya tambang minyak.
Sama dengan sejarah UAE dan Qatar, karena tahun 1968 Inggris mau membubarkan Trucial States, emirat-emirat ini disuruh merdeka sendiri. Bahrain dan Qatar gak sepakat dengan Abu Dhabi dan Dubai, jadi mereka tidak ikutan di UAE, merdeka sendiri pada 1971. Pada 2002 nama negara resmi dirubah dari Negara Bahrain (Daulat al-Bahrain) menjadi Kerajaan Bahrain (Mamlakat al-Bahrain).
Kerajaan Bahrain sekarang ini masih terperangkap dalam isu geopolitik yang sama. Rakyatnya yang mayoritas Syiah membuatnya rentan terhadap ancaman Iran. Sementara hegemoni al-Khalifa yang Sunni harus dipertahankan di pulau itu. Maka Bahrain bersekutu erat dengan Amerika Serikat sebagai pengganti Inggris dalam menyediakan pertahanan dari ancaman negara lain yang lebih besar (sejak 1980: Republik Islam Iran) dan juga Arab Saudi. Bahrain secara alami bergabung dengan GCC dan menyejajarkan diri dengan kepentingan Arab Saudi. Waktu Arab Spring 2012 pemerintah Bahrain kesulitan memadamkan revolusi, Arab Saudi mengirim bala tentaranya lewat jembatan King Fahd (jembatan menyeberang laut yang bisa dilewati tank dan kendaraan militer) untuk membantu memadamkan pemberontakan.
Raja Hamad bin Isa al-Khalifa
4. Negara Qatar (Daulat Qatar)
Qatar punya sejarah yang cukup panjang ribet. Selama ratusan tahun Qatar ini diperebutkan oleh kuasa dunia sampai lokal, seperti Portugis, Inggris, Ottoman dan sheikh-sheikh lokal, khususnya al-Khalifa (penguasa Bahrain) dan al-Saud (sekarang penguasa Arab Saudi, waktu jaman Emirat Diriyah maupun Emirat Nejd). Penghasilan Qatar didapat dari perdagangan internasional (lokasinya strategis) dan perburuan mutiara.
Qatar sekarang dipegang oleh dinasti al-Thani. Sejarah al-Thani dimulai dari Mohammed bin Thani. Sekitar tahun 1860an, terjadi konflik antara al-Saud (penguasa Nejd) dan al-Khalifa (penguasa Bahrain) dalam memperebutkan Qatar. Mohammed bin Thani memimpin pasukannya membantu pasukan al-Saud (dipimpin oleh Imam-nya Faisal bin Turki al-Saud) dalam melawan al-Khalifa, penguasa Bahrain yang juga menduduki sebagian daerah Qatar. Mohammed bin Thani akhirnya ditunjuk menjadi gubernur untuk wilayah Qatar bagi kekuasaan al-Saud.
Konflik Qatar dengan Bahrain masih berlangsung, singkat cerita Inggris menengahi kedua pihak untuk berdamai, sehingga terbentuklah Traktat Perdamaian yang disepakati kedua belah pihak pada tahun 1868. Traktat ini menjadi penentu bahwa Qatar adalah wilayah yang terpisah dari Bahrain dan penguasa Qatar adalah Mohammed bin Thani.
Pada tahun 1870an, al-Thani berpindah ketundukannya dari al-Saud ke Ottoman. Jadi pada saat itu Ottoman memasukkan Qatar sebagai bagian dari provinsi (sanjak) Nejd. Namun hubungan al-Thani dengan Ottoman memburuk, meledak di pertempuran Al-Wajbah yang dimenangkan oleh al-Thani. Sejak itu Ottoman dan Inggris berebut pengaruh di Qatar. Pada 1916 Inggris memenangkan pengaruh di Qatar karena sheikh-nya saat itu Abdullah bin Jassim bin Mohammed al-Thani kuatir dengan pengaruh al-Saud dan memilih bersekutu dengan Inggris. Pada tahun 1916 sheikh Abdullah menandatangani perjanjian protektorat dengan Inggris, sehingga Qatar jadi masuk ke dalam Trucial States (lihat sejarah UAE di atas).
Inggris menyatakan pada 1968 untuk melepas koloni/protektoratnya di Teluk Persia. Perundingan untuk Federasi Emirat akhirnya tidak memuaskan Qatar, sehingga pada 1971 Qatar menyusun konstitusinya sendiri dan merdeka sebagai negara sendiri. Ahmad bin Ali al-Thani sebagai emir dan Khalifa bin Hamad al-Thani sebagai perdana mentri.
Tak lama kemudian Ahmad bin Ali dikudeta oleh Khalifa bin Hamad karena lemahnya kepemimpinannya. Pada era ini Khalifa bin Hamad menjadi emir dan urusan sehari-hari dilakukan oleh anaknya Hamad bin Khalifa al-Thani sebagai wakil emir (jangan kebalik namanya: Khalifa bin Hamad=bapak, Hamad bin Khalifa=anak). Mereka memotong anggaran tunjangan untuk anggota kerajaan dan lebih banyak memanfaatkan uang dari minyak dan gas bumi untuk program-program sosial.
Namun pada 1995 Hamad bin Khalifa mengkudeta ayahnya (kudeta tak berdarah), berkuasa sebagai emir. Sejak itu sheikh Hamad menjalankan program-programnya untuk membuat Qatar jadi lebih demokratis, modern, dan memiliki pers bebas. Stasiun Televisi Al-Jazeera adalah salah satu karya Sheikh Hamad. Keretakan hubungan dengan Arab Saudi kabarnya sudah dimulai sejak kudeta ini. Arab Saudi sempat melancarkan "kontra kudeta" (untuk mengembalikan kekuasaan Sheikh Khalifa) tapi gagal.
Kalau sebelumnya Qatar bersekutu dengan Inggris, di era modern sekarang ini Qatar bersekutu erat dengan Amerika Serikat. Qatar menyediakan pangkalan untuk militer AS, termasuk waktu invasi Irak pada 2003.
Pada tahun 2013 Sheikh Hamad bin Khalifa turun tahta (dengan sukarela), menyerahkan kekuasaan kepada anaknya Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani.
Sejak era Sheikh Hamad, Qatar dikenal sebagai negara yang punya ambisi geopolitik tersendiri, berani menjalin hubungan dengan kubu Islamis (seperti Ikhwanul Muslimin, Hamas dan Taliban) dan sering tidak sejalan dengan kebijakan 'pemimpin de facto' GCC, yaitu Arab Saudi.
Kiri: emir sebelumnya, Hamad bin Khalifa al-Thani yang memajukan Qatar hingga ke posisinya sekarang. Kanan: Emir sekarang, Tamim bin Hamad al-Thani yang menggantikan ayahnya sejak 2013
5. Uni Emirat Arab (al-Imarat al-Arabiya al-Muttahidah)
Uni Emirat Arab adalah negara federal dari tujuh Emirat:
  • Emirat Abu Dhabi yang diperintah dinasti al-Nahyan.
  • Emirat Dubai yang diperintah dinasti al-Maktoum.
  • Emirat Sharjah yang diperintah dinasti al-Qasimi.
  • Emirat Ra's al-Khaimah juga diperintah oleh dinasti al-Qasimi.
  • Emirat Ajman diperintah oleh dinasti al-Nuaimi.
  • Emirat Fujairah diperintah oleh dinasti al-Sharqi.
  • Emirat Umm al-Quwain diperintah oleh dinasti al-Mualla.
Setiap dinasti ini punya riwayat masing-masing, bagaimana akhirnya mereka bisa menguasai daerah masing-masing menjadi emirat.
Tapi sejarah utama UAE diawali dari persaingan antara imperium kolonial Eropa untuk menguasai pesisir Selatan Teluk Persia. Di masa-masa ini, suku al-Qasimi memegang keunggulan di perairan Teluk Persia. Armada kapal-kapal al-Qasimi sering mengganggu dan membajak kapal-kapal berbendera Inggris, sehingga Inggris menyebut daerah itu sebagai 'Pesisir Bajak Laut' (Pirate Coast).
Singkat cerita, Inggris melancarkan dari operasi militer sampai diplomasi untuk menjinakkan aksi-aksi al-Qasimi sekaligus mengurangi pengaruh Portugis dan Prancis di daerah pesisir. Berbagai traktat dan perjanjian antara Imperium Britania dan suku-suku Arab pribumi berujung pada terbentuknya Trucial States (dari kata dasar truce = gencatan senjata) pada 1820. Trucial States ini adalah kumpulan dari emirat yang sepakat untuk berdamai dengan Inggris, menjadi protektorat Inggris (secara pertahanan diserahkan kepada Inggris), melindungi jalur perdagangan dari Teluk Persia ke Samudra Hindia, memberikan akses seluas-luasnya hanya kepada Inggris dan tidak kepada kuasa kolonial Eropa lain.
Pada tahun 1968 Inggris menyatakan akan melepas kekuasaan kolonialnya di Trucial States. Emirat-emirat ini yang selama ini 'diurusin' Inggris dalam hal kebijakan luar negeri, pertahanan, dan penengah pertikaian di antara mereka, harus menerima kenyataan bahwa mereka harus mengurus diri sendiri sekarang. Maka pada 1968 Sheikh Zayed al-Nahyan dari Abu Dhabi dan Sheikh Rashid al-Maktoum dari Dubai membuat kesepakatan untuk bersatu dan mengajak emirat-emirat lain, termasuk Qatar dan Bahrain untuk ikut. Negosiasi berjalan alot dan panas, dengan Qatar, Bahrain, dan Ra's al-Khaimah walk out. Sisanya sepakat membentuk Uni Emirat Arab pada 1971. Ra's al-Khaimah akhirnya bergabung pada 1972 setelah beberapa wilayahnya di Teluk Persia dirampas Iran.
UAE adalah negara yang unik, merupakan federasi yang dipimpin oleh Dewan Federal Agung (Federal Supreme Council) yang beranggotakan semua emir pemimpin emirat-emirat tsb. Federal ini adalah monarki absolut, di mana emirat-emirat mengurus diri sendiri sebagai emirat yang independen, tapi sebagai satu negara mereka dipimpin oleh presiden yang adalah emirat Abu Dhabi dan wakil presiden yang adalah emirat Dubai. Abu Dhabi dan Dubai memang menjadi emirat yang paling menonjol dan uang dari kekayaan minyak bumi digunakan untuk membangun secara besar-besaran.
UAE sekarang bisa dibilang adalah negara yang 'hampir' liberal. Pemimpin UAE bercita-cita setelah minyak habis UAE, khususnya Abu Dhabi dan Dubai, tetap memiliki nilai strategis sebagai hub transportasi, perdagangan, ekonomi, dll di daerah Teluk Persia. Dalam hal kebijakan politik luar negeri UAE dekat dengan Arab Saudi, sampai sekarang masih bergabung dengan aliansi Saudi di Yaman.
Presiden UAE/Emir Abu Dhabi Khalifa bin Zayed al-Nahyan yang sudah sakit-sakitan sekarang
Mohammed bin Zayed / MBZ, Putra Mahkota Abu Dhabi, orang paling berkuasa di UAE saat ini
6. Kesultanan Oman (Saltanat Uman)
Pada tahun 657, terjadi pertempuran antara pasukan dari kalifah Ali bin Abi Thalib melawan gubernur Suriah Muawiyah I. Muawiyah sebenarnya sudah hampir kalah, tapi dia mengusulkan kepada Ali untuk permusuhan diselesaikan dengan arbitrasi berdasarkan al-Quran. Sebagian dari pasukan Ali, khususnya dari bani Tamim, tidak setuju karena menganggap Muawiyah adalah pemberontak yang menurut Quran tidak bisa dilakukan arbitrasi. Mereka ini jadi menganggap Ali tidak lagi sah sebagai kalifah dan memisahkan diri dari kepemimpinan Ali. Mereka ini disebut oleh orang-orang sebagai Khawarij (artinya "yang keluar/memisahkan diri"). Ali bin Abi Thalib akhirnya dibunuh oleh seorang Khawarij. Kaum Khawarij ini menjadi militan dan keras. Mereka menganggap muslim lain yang tidak ikut mereka sebagai 'kafir'. Khawarij menjadi musuh bukan hanya bagi Ali tapi juga bagi kalifah-kalifah berikutnya.
Namun belakangan adalah seorang ulama Khawarij dari Basra bernama Abdullah ibn Ibad dari bani Tamim yang memisahkan diri dari gerakan Khawarij keseluruhan karena mengecam ekstrimisme mereka. Gerakan moderat ini akhirnya disebut sebagai Ibadi, dari nama ulama ini. Inti perbedaannya, kaum Ibadi hanya menganggap kalifah al-Rashidun yang sah hanyalah Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Dari semua sekte-sekte Khawarij, hanya Ibadi yang tersisa di jaman modern ini, dan penganutnya juga menolak untuk disebut sebagai Khawarij. Sekitar abad ke-8, penganut Ibadi sudah mendirikan imamat (otoritas imam yang memegang wewenang agama, militer dan politik) di Oman. Ini sebabnya kenapa mayoritas muslim di Oman berasal dari aliran ini.
Sepanjang sejarahnya pasca Islam, Oman diperintah berganti-berganti oleh kuasa politik luar (Seljuk, Portugis, Ottoman, Persia) maupun sheikdom asli Oman (dinasti Nabhani. Imamat Yarubiyah). Dinasti Yarubiyah ini berhasil mengambil wilayah di pesisir Swahili dan kepulauan Zanzibar di Afrika Timur menjadi koloninya. Dari sini perdagangan budak menghasilkan banyak pemasukan. Pada abad 18 pemerintahan Saif bin Sultan II yang bekerja sama dengan Persia mengalami banyak konflik karena tidak populer. Saif bahkan memberikan Muscat kepada Persia. Ketidakpopuleran dinasti ini memicu pemberontakan yang dipimpin oleh Ahmad bin Said al-Busaidi yang mendepak Persia pada 1749 dan juga menumbangkan dinasti Yarubiyah. Ahmad bin Said akhirnya ditahtakan sebagai sultan Muscat dan imam Oman. Dinasti al-Said inilah yang memerintah Oman sampai sekarang.
Walaupun dinasti al-Said mengalami beberapa kali konflik antar faksi/saudara, pada abad 19 Oman sudah menjadi kuasa regional. Sultan Said ibn Sultan memperkuat koloni-koloni Oman di Zanzibar, Swahili, Zanj, Mombasa dan Dar-es-Salaam (sekarang di Tanzania dan Kenya) dan Gwadar (sekarang di Pakistan). Perdagangan budak utamanya yang membuat Oman menjadi kaya. Kejayaan ini akhirnya berhenti pada waktu Inggris melarang perbudakan pada pertengahan abad 19, dan Oman pun kehilangan pelanggan terbesarnya. Zanzibar merdeka sebagai kesultanan sendiri pada 1856 (ribut-ribut antara pangeran bersaudara Majid dan Thuwaini bin Said yang ditengahi Inggris). Gwadar dibeli oleh Pakistan pada 1958.
Mirip dengan sheikdom yang lain di Teluk Persia, daerah Oman menjadi protektorat Inggris dengan traktat-traktat sejak 1798. Inggris menjadi penguasa de-facto Oman, karena sultan secara ekonomi sangat bergantung pada Inggris dan harus mengkonsultasikan banyak urusan negara dengan Inggris. Ini berlangsung sampai kemerdekaan Oman dari Inggris pada 1951.
Pengaruh Inggris atas kesultanan al-Said di Muscat membuat rakyat Oman di daerah pedalaman antipati kepada sultan dan imamat Ibadi yang keberadaannya timbul tenggelam selama 1200 tahun akhirnya bangkit lagi di abad 19. Jadi pada 1920, Traktat Seeb membagi Oman menjadi dua kedaulatan:
  1. Daerah pesisir disebut Muscat dan dikuasai sultan. Di sini penduduknya lebih kosmopolitan karena penghasilan utama dari perdagangan internasional. Pengaruh Inggris lebih kuat di sini.
  2. Daerah interior disebut Oman dan dikuasai oleh imam. Di sini penduduknya lebih relijius dan konservatif.
Masalahnya, minyak ditemukan di daerah imamat tsb. Perundingan antara sultan Said bin Taimur al-Said dengan imam Ghalib Alhinai untuk konsesi minyak tersebut berakhir buntu. Perang Jebel Akhdar pecah pada 1954 dan 1957. Tadinya pasukan sultan kalah. Tapi karena dibantu oleh Inggris, akhirnya imamat berhasil dihancurkan. Imam terakhir dan pendukungnya kabur ke Arab Saudi. Seluruh Oman akhirnya berhasil dikuasai oleh Muscat.
Pemberontakan Dhofar yang komunis sempat pecah pada 1965 tanpa bisa ditumpas oleh sultan Said. Akhirnya anaknya Qaboos bin Said mengkudeta ayahnya pada 1970, memodernisasi angkatan militer, dan dengan bantuan Iran, Pakistan, Yordania, dan Inggris berhasil memadamkan pemberontakan tsb.
Sultan Qaboos inilah yang akhirnya memodernisasi seluruh negara tsb. dari negara miskin menjadi negara makmur di Jazirah Arab. Kemakmuran, pendidikan dan kesehatan ditingkatkan. Konstitusi dibuat tahun 1996. Reformasi politik juga dilakukan untuk meningkatkan partisipasi rakyat.
Sultan Qaboos bin Said al-Said meninggal 10 Januari 2020 dan digantikan oleh sepupunya, Haitam bin Tariq al-Said.
Sultan Qaboos bin Said al-Said yang membawa Oman kepada kemakmurannya sekarang
Sultan Haitham bin Tariq al-Said yang baru dilantik Januari 2020
7. Kerajaan Hasyimiyah Yordania (al-Mamlakah al-Urduniyah al-Hasyimiyah)
Kerajaan yang satu ini dipegang oleh dinasti Hasyimiyah. Klan Hasyimiyah ditarik mundur ke nabi Muhammad. Hasyim adalah nama dari buyut Muhammad. Klan Hasyimiyah mengklaim sebagai keturunan dari nabi lewat putrinya Fatima yang menikah dengan sepupu Muhammad yaitu Ali bin Abi Thalib.
Salah satu keturunan mereka adalah Jafar bin Muhammad al-Hasani, yang pada tahun 968 M datang dari Medinah dan menaklukkan Mekkah atas nama kalifah al-Muizz dari kekalifahan Fatimiyah. Sejak itu, Jafar dan keturunannya memegang gelar sharif Mekkah. Sharif Mekkah adalah jabatan bergengsi di mana pemegangnya menjadi pengawas dan pelindung (steward) dari Mekkah, Medinah dan daerah Hejaz di sekitarnya. Walaupun imperium Islam yang menguasai Hejaz berganti-ganti, posisi sharif Mekkah selalu dipegang oleh klan Hasyimiyah.
Sharif terakhir yang memegang jabatan ini adalah Hussein bin Ali, menjabat sejak 1908 di bawah kekhalifahan Utsmaniyah (Ottoman). Pada tahun-tahun sebelum PD I, pemerintahan Ottoman sehari-hari dijalankan oleh Young Turks (sekelompok perwira-perwira nasionalis radikal). Sharif Hussein semakin tidak cocok secara politik dengan Sublime Porte (pusat pemerintahan Ottoman). Ditambah dengan posisi Ottoman yang melemah, lalu kedudukan dia yang sangat terhormat dan silsilah keluarganya yang istimewa, Sharif Hussein jadi mengembangkan ambisinya sendiri untuk memiliki pemerintahan otonom atau bahkan membuat kekalifahan baru dari Hejaz. Putra Sharif yang paling ambisius adalah Abdullah, yang menerima pendidikan militer di Constantinople dan Hejaz. Jadi pada 1914 Abdullah mewakili ayahnya berunding dengan Inggris untuk memberontak terhadap kekuasaan Ottoman. Maka pecahlah Pemberontakan Arab (Arab Revolt) pada 1916. Di Arab Revolt ini Abdullah dan adiknya Faisal terlibat aktif sebagai panglima.
Hussein berambisi untuk bisa menguasai seluruh Jazirah Arab dan Levantine di bawah kekuasaannya. Inggris menjanjikan untuk mendukung dia menjadi 'raja Arab'. Tapi akhirnya perkembangan situasi membuat Inggris tidak bisa memenuhi janjinya. Faisal bin Hussein yang tadinya dinobatkan menjadi raja Suriah, didepak Prancis. Kawasan Hejaz malah dicaplok oleh dinasti al-Saud dari Nejd. Akhirnya al-Saud jadi menguasai mayoritas wilayah di Jazirah Arab. Alhasil, Inggris membagi wilayah Timur Tengah yang 'tersisa' kepada anak-anak pembagian kekuasaannya adalah sbb:
  1. Ali menjadi raja Hejaz sampai dikalahkan al-Saud pada 1925. Sejak itu jabatan sharif Mekkah praktis tidak ada lagi dan fungsinya dipegang oleh raja Arab Saudi.
  2. Abdullah menjadi amir Trans-Yordan pada 1921, di mana Trans-Yordan dimasukkan ke dalam Mandat Palestina oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada 1946, akhirnya Trans-Yordan dimerdekakan oleh Inggris dan Abdullah menjadi raja Yordania. Keturunannya menguasai Kerajaan Hasyimiyah Yordania sampai sekarang.
  3. Faisal menjadi raja dari Kerajaan Arab Suriah pada 1920, tapi terpaksa pindah ke Irak karena didepak Prancis. Dia menjadi raja Irak pada 1921. Keturunannya memerintah Kerajaan Hasyimiyah Irak sampai kudeta pada 1958 dan Irak menjadi republik.
Yordania adalah negara Arab yang tidak terlalu kaya dan rakyatnya mayoritas adalah Arab Palestina, bukan Arab Yordania. Ini membuat tantangan-tantangan kerajaan ini lebih ribet daripada Arab Saudi. Kerajaan Yordania juga pernah ribut dengan pengungsi Palestina yang ngelunjak di negaranya, sehingga pecahlah peristiwa Black September 1970 di mana PLO berperang melawan militer Yordania. PLO akhirnya terusir dari Yordania dan pindah ke Lebanon, memicu perang saudara di sana.
Yordania adalah salah satu negara Arab yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan juga sekutu erat Arab Saudi dan Amerika Serikat. Yordania punya intelijen dan militer yang paling berkualitas di kalangan negara-negara Arab.
Keluarga kerajaan Yordania. Di tengah adalah raja Abdullah II dengan istri cantiknya Ratu Rania ❤
BONUS
Saya ceritakan dua kerajaan di Jazirah Arab yang sekarang sudah bubar.
8. Kerajaan Hasyimiyah Irak (al-Mamlakah al-Iraqiyah al-Hasyimiyah)
Masih bersambung dari sejarah Yordania di atas, putra dari Sharif Hussein yaitu Faisal, setelah didepak Prancis dari Suriah, akhirnya diberi Irak oleh Inggris untuk menjadi wilayah Kerajaan Hasyimiyah Irak. Kemerdekaan penuh didapat pada tahun 1932.
Berbeda dengan Yordania yang lebih stabil, sepanjang hidup monarki ini mengalami pergolakan yang tidak ada habis-habisnya. Pemberontakan Syiah, pemberontakan Kurdi, kudeta berkali-kali, perang dengan Inggris, pembantaian Yahudi, dll. Akhirnya kerajaan ini berakhir dengan kudeta pada 1958 di mana seluruh keluarga kerajaan dibantai oleh militer.
9. Kerajaan Muttawakil Yaman (al-Mamlakah al-Mutawakkiliyah)
Selama berabad-abad, daerah pegunungan di Yaman Utara menjadi tempat tinggal bagi klan-klan penganut Zaidi (satu aliran Syiah). Di abad 17, suku-suku ini berhasil melawan bala tentara Ottoman. Memang sulit menyatukan Yaman karena daerah pegunungan dengan suku-suku Zaidi ini sangat sulit ditaklukkan.
Dengan rontoknya Imperium Ottoman pada 1918, Imam Yahya Muhammad dari dinasti al-Qasimi memproklamirkan Yaman Utara sebagai negara merdeka dengan nama Kerajaan al-Mutawakkil Yaman dengan dirinya sebagai Raja dan Imam. FYI, wilayahnya waktu itu hanya di Yaman Utara (termasuk daerah pegunungan dan ibukota Sana'a, tidak termasuk Aden, Hadramauth dan seluruh Yaman Selatan yang masih dikuasai Inggris).
Ini juga kerajaan yang letaknya di pegunungan tandus, terbelakang, dan mengalami banyak pergolakan. Pada waktu cucu Yahya jadi raja, yaitu Muhammad al-Badr, dia dikudeta oleh komandan dari Garda Kerajaan yang bersimpati dengan pan-Arabisme yang digaung-gaungkan presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. Pemerintah hasil kudeta memproklamirkan Republik Arab Yaman. Ini memicu perang saudara Yaman Utara (1962–1970), di mana pihak Republik Arab Yaman didukung secara militer oleh Mesir dan pihak Kerajaan Mutawakkil didukung oleh Inggris, Arab Saudi dan Yordania. Perang berakhir dengan kemenangan kaum Republik dan Kerajaan Mutawakkil pun bubar.
Dah, selesai.

Hikmahnya: jangan pernah sekali-sekali menyebut raja Arab Saudi sebagai "Raja Arab". Lihat kan ada berapa banyak "raja Arab" di Jazirah aja? Belum ngomongin yang di luar Jazirah.





Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Sejarah Lengkap Terbentuknya Kerajaan-kerajaan Di Jazirah Arab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini