Apa tanda-tanda sebuah negara akan bubar ?

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :







Dalam menjawab hal ini, saya akan mengambil contoh satu negara, yaitu Yugoslavia, sumber munculnya kata pembalkanan. Sengaja saya ambil Yugoslavia karena jenis keberagaman mereka mirip dengan Indonesia, yakni utamanya dalam hal kesukubangsaan dan keagamaan.


Perpecahan Yugoslavia menjadi beberapa negara tahap demi tahap (oleh Hoshie dan DIREKTOR).[1]

Dalam hal kesukubangsaan, Yugoslavia memiliki dua bangsa terbesar, yaitu Serbia dan Kroasia. Bangsa Serbia dan Kroasia diakui sebagai bangsa resmi pembentuk Yugoslavia oleh Pemerintah Yugoslavia. Terdapat pula empat bangsa lainnya yang lebih kecil, tetapi juga memiliki kekuatan politik yang besar karena kedudukan mereka yang sama-sama sebagai bangsa resmi: Muslim (kini disebut Bosnia), Slovenia, Makedonia, dan Montenegro. Pemerintah Yugoslavia mengakui keenam bangsa resmi tersebut sebagai bangsa yang berbeda satu sama lain. Berhubungan Yugoslavia adalah negara federal, tiap enam bangsa tersebut memiliki republik konstituennya sendiri-sendiri.

Republik-republik konstituen di Yugoslavia (oleh Bobby, Rowanwindwhistler, dan Incnis Mrsi).[2] Perlu diketahui bahwa Kosovo dan Vojvodina adalah provinsi swatantra yang menjadi bagian dari Republik Sosialis Serbia. Keduanya diberi swatantra lebih luas karena kebanyakan penduduk Kosovo berasal dari suku Albania, sedangkan Vojvodina, meski kebanyakan diduduki oleh orang Serbia, memiliki minoritas Hongaria yang cukup besar.

Selain keenam bangsa tersebut, terdapat pula beberapa suku yang jumlahnya lebih kecil lagi dan mereka disebut sebagai kebangsaan setelah sebelumnya disebut sebagai minoritas nasional.[3] Kebangsaan yang paling menonjol adalah Albania mengingat di daerahnya sendiri, yaitu Kosovo, mereka adalah kaum mayoritas. Kebangsaan Hongaria tidak begitu menonjol karena Vojvodina masih memiliki bangsa Serbia sebagai penduduk mayoritasnya.

Perlu diketahui, tiap bangsa maupun kebangsaan pun memiliki agama yang menjadi ciri khasnya sendiri-sendiri. Bangsa Kroasia, Slovenia, dan kebangsaan Hongaria kebanyakan Katolik; bangsa Serbia, Makedonia, dan Montenegro kebanyakan Ortodoks; kebangsaan Albania dan bangsa Muslim, sesuai namanya, kebanyakan Islam.

Informasi Tidak Penting

Oh, ya. Lucunya lagi, meskipun Yugoslavia terdiri dari enam bangsa resmi, bahasa resmi mereka hanyalah tiga: Serbo-Kroasia, Slovenia, dan Makedonia. Mungkin banyak yang bertanya-tanya ke mana nasib bahasa Bosnia (Muslim) dan Montenegro. Namun, tahukah para pembaca bahwa bahasa yang digunakan oleh bangsa Serbia, Kroasia, Bosnia, dan Montenegro itu pada dasarnya sama, tetapi hanya berbeda standarisasinya saja pada masa kini? Sama seperti bahasa Indonesia dan Malaysia yang pada dasarnya adalah bahasa Melayu. Nah, bahasa Melayu yang digunakan keempat bangsa tersebut itulah yang mereka sebut sebagai bahasa Serbo-Kroasia. Bedanya dengan Indonesia dan Malaysia, kesadaran "kita serumpun" tidak begitu diterima baik di kalangan mereka.


Sekarang, kita harus kilas balik mengapa keenam bangsa dan sekian banyak kebangsaan tersebut sempat ditakdirkan (baca: dikutuk) hidup bersama. Jadi, Yugoslavia adalah negara hasil gagasan para cendekiawan setempat yang menginginkan agar bangsa-bangsa Slavia Selatan hidup bersama. Gagasan ini pun akhirnya didukung oleh orang banyak. Memang, dari namanya saja, Yugoslavia sendiri artinya adalah bangsa Slavia Selatan. "Impian" pembentukan Yugoslavia baru tercapai pasca-Perang Dunia I mengingat dua dari tiga kemaharajaan besar yang kalah kala itu, Austria-Hongaria dan Utsmaniyah, bubar—kasihan, deh, Jerman harus dituduh salah sendirian, belum ganti ruginya lagi—. Keduanya bubar karena penduduknya sangat beragam dan kebetulan dibarengi dengan bekennya nasionalisme kesukuan, beda dengan Jerman yang sedari awal justru terbentuk akibat nasionalisme kesukuan atau lebih tepatnya, kebangkitan nasional.

Sialnya, Yugoslavia yang "kesampaian" terbentuk setelah Austria-Hongaria dan Utsmaniyah bubar pun bernasib sama. Yugoslavia juga sangat beragam seperti pendahulunya sehingga pemerintahan mereka harus hati-hati dalam lika-liku kebijakannya agar tidak berbenturan dengan golongan ini itu. Dari awal pembentukannya saja, sudah ada bibit-bibit perpecahan yang bisa kita lihat. Konon bangsa Kroasia lebih memilih bentuk negara federal untuk menghormati kebudayaan masing-masing bangsa—dengan kata lain, "urusanku, urusanmu"—, sedangkan bangsa Serbia lebih memilih bentuk negara kesatuan agar orang-orang Serbia yang persebarannya ada di seluruh penjuru Yugoslavia bisa bersatu.

Silakan lihat seberapa amburadulnya persebaran suku bangsa di Yugoslavia. Nahasnya, gambar di atas dibuat berdasarkan data sensus 1991 yang dilakukan saat detik-detik perang pecah. Keamburadulan, termasuk banyaknya daerah kantong, inilah yang menyebabkan Perang Yugoslavia sangat rumit, merugikan, dan mematikan.


Lalu, jika Yugoslavia sangat beragam, apa yang membuat mereka sempat bertahan selama beberapa waktu?

Singkat saja, keterpusatan kekuasaan pasca-Perang Dunia I dan selebritas buku PPKn di bawah ini.

Josip Broz Tito, diktator Yugoslavia. Di buku PPKn sering nongol ketika kita membahas Gerakan Non-Blok.

Sejak pembentukannya pada 1918, Kerajaan Yugoslavia secara de facto berada dalam pimpinan bangsa Serbia mengingat rajanya pun berasal dari wangsa Serbia. Tak kaget, bila pada kala itu, negara Yugoslavia sangat terpusatkan (tersentralisasi). Seolah belum cukup, pada 1929, Yugoslavia berubah menjadi kerajaan mutlak. Suasana "agak mendingan sedikit" setelah bangsa Kroasia yang merasa dijajah oleh bangsa Serbia disatukan dalam suatu kawasannya sendiri hingga-hingga dibuatkan provinsi swatantranya sendiri.[4] Yugoslavia pun kembali menjadi kerajaan konstitusional pada 1931.

Kemudian, muncullah Perang Dunia II dengan Poros sebagai pemeran utama. Pada masa ini, Poros menyerang Yugoslavia. Hal ini memperburuk keadaan Yugoslavia yang sejak awal pembentukannya merupakan negara miskin terbelakang. Pada masa ini, Kroasia "dimerdekakan" menjadi negaranya sendiri yang ujung-ujungnya dijadikan negara boneka oleh Poros. Salah satu organisasi kaki tangan Poros di sana, Ustaše, yang berhaluan ultranasionalis (tentunya) melakukan pembantaian di kamp-kamp konsentrasi yang didukung oleh para nasionalis Kroasia. Mengapa para nasionalis Kroasia mendukungnya? Karena yang dibantai tak hanya orang Yahudi, melainkan juga ratusan ribu orang Serbia. Para nasionalis Kroasia menganggap pembantaian ini sebagai salah satu tahap untuk memerdekakan diri sepenuhnya dari Serbia.

Terlepas itu, pada akhirnya, Yugoslavia berhasil mengusir Poros dengan usahanya sendiri—tidak seperti negara Eropa Timur lainnya yang dibantu langsung oleh Soviet—, bahkan berhasil mencaplok sebagian wilayah Italia.

Silakan lihat hasil caplokan Yugoslavia di barat laut negaranya yang sekarang menjadi bagian dari Slovenia (oleh NikNaks, Alphathon, maix, W!B:, Zirland, MrWeeble, CarolSpears, TimothyBourke, Collard, F7, Heb, dan Tintazul).[5] Bagi pengguna mode gelap, gambar di atas menunjukkan wilayah Yugoslavia tahun 1918–1941, sedangkan di bawah tahun 1945 hingga kebubarannya pada 1992.

Keberhasilan ini membuat sosok Josip Broz Tito yang memimpin tentara berhaluan komunisnya, Partisan, dalam mengusir Poros naik daun. Pada awal kepemimpinannya setelah Yugoslavia hancur oleh Perang Dunia II, ia menggunakan tangan besi untuk menyatukan Yugoslavia. Para nasionalis Kroasia, termasuk para setia Raja Yugoslavia yang juga ikut berperang melawan Poros, dibungkam dengan kejam. Hal ini sebenarnya cukup bertolak belakang mengingat Tito sendiri adalah seorang Kroasia.

Meski dirinya seorang komunis, Tito berakhir menceraikan Beograd dari Moskwa—karenanya Tito menjadi salah satu penggagas Gerakan Non-Blok—. Ia menginginkan Yugoslavia bekerja sama dengan Blok Barat maupun Timur tanpa dikuasai oleh salah satunya, lagi-lagi serupa dengan Indonesia. Sistem ekonomi di bawah pemerintahan Tito tidak menerapkan sosialisme Soviet, melainkan sosialisme pasar mengingat ia masih mengizinkan usaha dalam skala kecil. Hal inilah yang mendongkrak ekonomi Yugoslavia yang walau tidak kaya sekali, pendapatan rakyatnya berhasil mengalahkan negara-negara kapitalis seperti Italia dan Yunani! Rakyatnya juga leluasa, bisa jalan-jalan ke Amerika Serikat maupun Uni Soviet sesuka hati.


Sekarang kita mulai menuju ke pertanyaan. Mohon maaf atas pengenalannya yang terlalu panjang, tapi memang dibutuhkan untuk memberikan gambaran umum.

Bagaimana Yugoslavia bisa bubar?

Pada 1974, undang-undang dasar Yugoslavia diubah. Jabatan Presiden Yugoslavia digantikan oleh Presidium Yugoslavia yang merupakan kumpulan sembilan kepala negara bersama yang masing-masing berasal dari keenam republik konstituen, dua provinsi swatantra Serbia, dan Liga Komunis Yugoslavia (partai komunisnya Yugoslavia). Kedelapan satuan administratif tersebut nantinya akan memberikan satu suara dalam jangka waktu tertentu untuk memilih siapa yang akan mengepalai Presidium Yugoslavia dan karenanya, menjadi Presiden Yugoslavia. Selain itu, undang-undang dasar yang baru pun memperkuat swatantra kedua provinsi swatantra atas Serbia. Kedudukan kedua provinsi swatantra Serbia yang setara dengan republik konstituen dalam presidium serta bertambah luasnya swatantra keduanya sangat dibenci oleh bangsa Serbia. Hal ini dianggap oleh para nasionalis Serbia sebagai perwujudan gagasan terkenal Tito yang mereka takuti selama ini, yaitu "Yugoslavia yang kuat adalah Serbia yang lemah".

Meski bagian sebelumnya dari jawaban ini seolah-olah menggambarkan Yugoslavia sebagai surga non-Blok, perlu diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi hanya terjadi hingga 1970-an. Pada 1980-an, keadaan ekonomi mulai terpuruk akibat kelabakan membayar utang dan keadaan ekonomi internasional yang buruk pada masanya.

Selain itu, Tito yang dianggap sebagai sosok pemersatu Yugoslavia pun mangkat pada 1980. Ketegangan antarsuku bangsa pun mulai bermunculan mengingat seperti yang sudah dikatakan secara tersirat di dua paragraf sebelumnya, masih ada sisa-sisa nasionalisme kesukuan. Celah mulai membesar ketika pertikaian antara bangsa Serbia dan kebangsaan Albania di Kosovo muncul pada awal 1980-an. Perlu diketahui bahwa Kosovo dianggap sebagai tunas peradaban oleh bangsa Serbia. Situs-situs terpenting bangsa Serbia juga berada di Kosovo. Hanya saja, mayoritas penduduk Kosovo berasal dari kebangsaan Albania. Pertikaian muncul antara keduanya ketika para nasionalis Albania meminta agar Kosovo dijadikan republik konstituennya sendiri. Pada saat yang bersamaan, bangsa Serbia di sana merasa tertindas oleh kebangsaan Albania yang tentunya menguasai Kosovo.[6] Banyak orang Serbia maupun orang dari bangsa dan kebangsaan lainnya yang mengangkat kaki dari Kosovo pada jangka waktu ini.[7]

Di samping itu, Yugoslavia pun memiliki kesenjangan utara-selatannya sendiri. Yugoslavia utara yang lebih maju dan kaya, yakni Kroasia dan Slovenia, merasa digerogoti oleh "saudara-saudaranya" yang lebih terbelakang dalam bentuk subsidi silang olahan pendapatan pajak. Terutama Slovenia, meskipun penduduknya hanya 8% penduduk Yugoslavia, PDB-nya mencapai 17% PDB Yugoslavia! Keadaan ekonomi utara dan selatan memang jomplang mengingat keterpurukan ekonomi yang sudah disebutkan tadi lebih berdampak pada sisi selatan. Namun, ada pula faktor perbedaan pola pikir yang turut bersumbangsih dalam bubarnya Yugoslavia. Bangsa Slovenia dan Kroasia dikenal sebagai pemikir terbuka. Bahkan, Kroasia sempat dikenal sebagai republik berhaluan liberal hingga akhirnya "dikolotkan kembali" oleh Tito pada 1971. Kroasia dan Slovenia pun kompak berkubu memperjuangkan swatantra yang lebih luas. Selain karena kedua bangsa tersebut sama-sama Katolik dan terbuka, mereka pun dulunya sama-sama bagian dari Austria-Hongaria yang juga menjadi alasan mengapa mereka berakhir memeluk Katolik Roma hingga hari ini. Bahkan, di Slovenia, dikenal pula semboyan "bercerai kita teguh, bersatu kita runtuh" dalam menaggapi masa depan Yugoslavia dan sejarah yang kelam nan keji memang berkata demikian.[8]

Lalu, muncullah si "Biang Kerok".

Slobodan Milošević, Presiden Serbia (republik konstituen Serbia), kemudian Yugoslavia pascaperang saudara yang kemudian hari berganti nama menjadi Serbia dan Montenegro. Ia sempat diadili oleh Mahkamah Internasional atas kebiangkerokannya.

Seperti yang kita duga, di mata orang Serbia, ia adalah bawang putih. Milošević dianggap sebagai penyelamat bangsa Serbia dan jati diri Serbia, yakni Kosovo. Ia berhasil memanas-manasi awam Serbia dengan pidato-pidatonya tentang Kosovo, salah satunya pidato janjinya yang menyatakan bahwa ia akan menyelamatkan saudara-saudara Serbianya di Kosovo. Padahal, ia adalah seorang komunis konservatif yang seharusnya bersikap netral terhadap permasalahan Kosovo.

Jika ia harusnya bersikap netral, mengapa dia berpihak pada kaumnya?

Namanya saja politik, ia memanfaatkan keadaan tegang tersebut untuk kampanye kepresidenannya. Hasilnya? Ia berhasil menjadi Presiden Serbia dan ketika ia menjabat, swatantra Kosovo dihapus.[9] Ia pun mengudeta pemerintahan republik konstituen Montenegro.

Suasana sangat tegang ditambah Kejatuhan Komunisme yang juga bermula di Eropa Timur mendorong Yugoslavia untuk menerapkan sistem multipartai. Pemilu bebas pertama diadakan di seluruh Yugoslavia pada 1990. Kecuali di Serbia dan Montenegro yang memenangkan komunis, partai nasionalis memenangkan kursi terbanyak. Bangsa-bangsa yang condong ke nasionalis tersebut memang ingin memerdekakan diri. Saking kompaknya, Kroasia dan Slovenia sama-sama menyatakan kemerdekaannya pada 25 Juni 1991, diikuti oleh Makedonia dan Bosnia dan Herzegovina. Perang saudara yang dikenal sebagai Perang Yugoslavia pun pecah dan berakhir membubarkan Yugoslavia menjadi beberapa negara, semuanya berdasarkan batas wilayah administratifnya dahulu.

Bekas Yugoslavia sekarang (oleh Ijanderson977).[10] Tampaknya tak ada perubahan batas. Hanya saja, ada banyak nyawa yang melayang.

Salah satu hal yang paling dikenal dari perang saudara ini adalah pembantaian yang dilakukan oleh Serbia terhadap bangsa Kroasia dan Muslim.[11] Ingat pembantaian bangsa Serbia yang dilakukan Kroasia saat Perang Dunia II? Serbia mengungkit-ungkit kejadian tersebut untuk membenarkan perbuatannya.[12][13]


Sekarang akan kita jawab pertanyaan utama, "Apa tanda-tanda sebuah negara akan bubar?" Berdasarkan studi kasus yang telah kita lakukan terhadap Yugoslavia, dapat kita inti sarikan sebagai berikut.

  • "…undang-undang dasar Yugoslavia diubah pada 1974." Hal ini menunjukkan adanya kebijakan politik yang kurang tepat dapat lambat laun bersumbangsih dalam bubarnya suatu negara. Memang tujuannya untuk memperkukuh persatuan Yugoslavia atas asas "Yugoslavia yang kuat adalah Serbia yang lemah". Namun, sayangnya, kebijakan ini justru menyinggung hati kaum mayoritas secara terang-terangan.
  • Adanya "…keadaan ekonomi…" yang "…mulai terpuruk…". Apalagi, yang terdampak adalah bagian selatan negaranya yang sedari dulu terbelakang. Rasanya, hal ini tidak perlu dijelaskan lebih jauh.
  • "…sosok pemersatu Yugoslavia pun mangkat pada 1980." Ibaratnya, tak ada alat tenun, pakan dan lungsin tak dapat menyatu. Ketika sesuatu yang mempersatukan suatu negara sirna, persatuan negara tersebut secara alami akan terganggu.
  • Adanya "…nasionalisme kesukuan." yang bisa berakhir dengan rasa "…ingin memerdekakan diri." Ingat nasionalisme kesukuan di daerah-daerah ujung Indonesia? Bagi negara yang beragam, mereka-mereka yang menganut paham ini umumnya dicap sebagai separatis. Beda halnya dengan negara homogen seperti Korea yang justru menggunakan nasionalisme kesukuan untuk memperjuangkan penyatuan kembali.
  • Adanya golongan yang "…merasa tertindas…" dan "…merasa digerogoti…". Umumnya, kaum minoritaslah yang merasa tertindas oleh kaum mayoritas serta kaum yang lebih majulah (umumnya dalam bidang ekonomi) yang merasa digerogoti. Kedua hal tersebut pastinya memperburuk hubungan antargolongan, belum lagi stereotipe yang segera menyusul.
  • Adanya "…perbedaan pola pikir…" antargolongan. Hal ini akan bertambah mengerikan bila tidak ada yang ingin mengalah atau tidak ditemukan jalan tengah yang dapat mewadahi kepentingan berbagai golongan. Jangan lupa juga akan muncul rasa superioritas yang timbul dalam suatu golongan tertentu yang menganggap pikiran dan dirinya lebih maju daripada "saudara" seberangnya.
  • "…kompak berkubu…" atau adanya perkubuan yang terjadi ketika lebih dari satu golongan bersatu atas dasar kesamaan (umumnya nasib) untuk saling menambah kekuatan mereka dalam menghadang pengaruh ataupun tekanan golongan yang menjadi "musuh" mereka bersama.
  • "Ia berhasil memanas-manasi awam Serbia…", hal yang terlalu wajar dijumpai sejak masa internet kini, apalagi di Indonesia. Rasanya tak mungkin tak menemukan "kompor" dalam berita harian. Semua pasti paham apa dampak dari para kompor tersebut.
  • "…ketika ia menjabat, swatantra Kosovo dihapus. Ia pun mengudeta pemerintahan republik konstituen Montenegro." Adanya golongan yang "mengganggu" hak yang golongan lainnya nikmati selama ini, khususnya bila golongan yang diganggu adalah golongan yang turut berpengaruh di tingkat negara. Sangat berbahaya bila tidak disertai pertimbangan matang dan persetujuan golongan yang diganggu.
  • "…Kejatuhan Komunisme…". Adanya keadaan internasional yang berkemungkinan mengganggu kestabilan negara secara langsung yang dalam kasus Yugoslavia ada dalam bidang paham dan geopolitik.
  • "Serbia mengungkit kejadian tersebut untuk membenarkan perbuatannya." Hal ini menunjukkan seberapa mengerikannya keberadaan dendam antargolongan yang tak terselesaikan. Mungkin akan ada masa dormannya. Namun, ketika keadaan antargolongan kembali memanas, dendam takterselesaikan tersebut bisa menjadi senjata mematikan.

Sekian dulu jawaban saya. Bila ada kesalahan, saya memohon perbaikannya mengingat pembahasan ini sangat sensitif. Terima kasih sudah membaca!

Catatan Kaki



Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Apa tanda-tanda sebuah negara akan bubar ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini