Belajar dari Macan Perang Salib dan Fakta-Fakta nya

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :






Belajar dari Shalahuddin Al Ayyubi


“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS:  Al-An’am 90)
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS:  Yusuf 111)



SEJARAH tidak datang dengan hal yang baru. Ia hanya akan terus berulang dengan peran, tempat dan waktu yang berbeda. Ia memberi kesempatan siapapun yang berjalan dengan waktu yang disediakan Allah. Sejarah begitu mahal dan agung. Ia bukan hanya catatan dari masa lampau, bukan pula ingatan akan kenangan-kenangan belaka. Sejarah adalah pelajaran, ibrah untuk mereka yang mau berfikir. Ia adalah lembaran hidup yang penuh kisah untuk diambil jadi panduan berjalan. Ibnu Khaldun menyebutnya tentara-tentara Allah.

Al-Qur’an mengisyaratkan banyak titik-titik sejarah untuk diilhami oleh akal yang mau berfikir. Dari kisah para nabi, rasul, serta para raja yang angkuh dan yang bijak. Al Quran juga mengisahkan manusia biasa dengan keimanan sekeras baja. Wanita-wanita dengan segala watak dan posisinya juga tak luput diberitakan Al-Qur’an untuk diteladani serta diambil pelajaran. Sejarah mengambil porsi yang besar bagi pribadi yang bertekad untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Dr. Muhammad as-Shalabi menjelaskan, bahwa sesungguhnya buah hakiki dari mempelajari sejarah adalah mengambil pelajaran dan menguasai sunnah-sunnah Allah. Di antara pelajaran-pelajaran tersebut adalah: (1) Pentingnya inisiatif dalam gerakan kebangkitan; (2) Pentingnya dorongan agama dalam memberikan semangat kepada rakyat; dan (3) Pentingnya persatuan dalam menghadapi bahaya yang datang dari dalam maupun luar.

Pada tahun 532 H/1137 M, di sebuah daerah bernama Tikrit, lahir seorang bayi laki-laki dari keluarga yang berasal dari etnis Kurdi. Dalam wafayat al a’yan, disebutkan bahwa awalnya sang ayah merasa dirundung sial dengan kehadiran sang bayi karena suatu alasan. Namun, salah seorang pengikutnya berusahan menghiburnya serta memberikan saran. Ia juga berdoa agar kelak anak ini akan menjadi seorang raja yang agung, memiliki marwah serta kedudukan yang tinggi. Kelak, umat Islam mengenal sang anak sebagai panglima pembebas Baitul Maqdis: Shalahuddin Al Ayubi.

Damaskus dan Aleppo menjadi langkah awal Shalahuddin untuk menguasai ilmu agama. Tak hanya ilmu agama, kemahiran bertarung, berburu, memanah dan segala bentuk latihan laiknya seorang pahlawan ia peroleh dari sini. Dan dari Nuruddin Mahmud Zanki-lah, sang guru yang sekaligus sultan Aleppo nan shalih, ia banyak belajar serta menghidupkan visi hebatnya untuk membebaskan serta mengembalikan Baitul Maqdis al Mubarak ke pangkuan kaum Muslim.

Jatuhnya Baitul Maqdis

Di akhir tahun 488 H/1095 M, Paus Urbanus II menyerukan Perang Salib untuk merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslim. Kepada pasukan yang ikut serta dalam misi perang salib, Paus berjanji akan menghapus hukuman dari dosa-dosa yang telah mereka lakukan di masa silam serta melindungi keluarga yang ditinggalkan. Dengan jumlah dan kekuatannya yang besar, Pasukan Salib menjadi momok menakutkan, membuat kekuatan kaum Muslim terlihat sangat rapuh.

Rapuhnya kekuatan umat Islam tak lain disebabkan perpecahan yang terjadi di tubuh kaum Muslim sendiri. Antara penguasa Muslim di Bumi Syam saling mengintai dan menjatuhkan satu sama lainnya. Belum lagi perselisihan aliran serta politik antara Daulah Fathimiyah dan Dinasti Saljuk yang memuncak tatkala pasukan salib mulai mendekati dan bergerak di wilayah-wilayah kaum Muslim.

Baik penguasa-penguasa Dinasti Saljuk maupun Daulah Fathimiyah, masing-masing melihat dan berharap kedatangan rombongan tentara salib akan membantu mereka untuk menumpas maupun memangkas kekuatan saingan mereka dari kalangan kaum Muslim sendiri. Akibatnya, rombongan pasukan salib Eropa dengan mudah bergerak serta leluasa memasuki wilayah Syam, sampai akhirnya mereka berhasil menduduki Baitul Maqdis dan wilayah bagian Pantai Syam secara keseluruhan.

Kelalaian yang menjangkiti kaum Muslimin saat itu membuat pasukan salib dengan mudahnya menguasai banyak wilayah kekuasaan umat Islam yang pada akhirnya berhasil merebut Baitul Maqdis. Ibnul Jauzi mengisahkan peristiwa yang sangat memilukan tersebut sebagai berikut:

“Kalaulah bukan karena terjadi pembantaian besar-besaran terhadap umat Islam di Baitul Maqdis dan informasinya menyebar, maka tentunya mereka (umat Islam) masih terlelap dalam tidurnya. Tidak banyak negeri-negeri kaum Muslim yang tersadar dari tidurnya sehingga harus membayar mahal kesalahannya ketika pasukan musuh datang menyerang. Menjadikan mereka sebagai bagian kisah dari masa lalu (karena telah hancur). Tidak tersisa lagi gelar-gelar menggelora nan menipu seperti halnya Mustarsyid Billah, Muqtafi Billah, Mustanjid Billah, dan Nashir Lidinillah, dan lain sebagainya. Jika asumsi saja tidak memberikan kebenaran, apatah halnya dengan kebohongan yang nyata? Apabila umat Islam tidak mempercayai Allah, maka tidak ada yang perlu disalahkan kecuali diri mereka sendiri.”


Baitul Maqdis terus terlepas dari tangan umat Islam hingga tiba hari dimana Shalahuddin berada di barisan terdepan kaum Muslim. Memimpin mereka untuk menampakkan izzah Islam yang bertahun-tahun dihinakan oleh pasukan musuh. Dihadapinya setiap pertempuran dengan gagah sampai mereka berhasil membebaskan Baitul Maqdis. Shalahuddin tersungkur dalam sujudnya, bersyukur kepada Allah azza wa jalla atas nikmat-Nya. Tidak ada pembantaian saat ia dan pasukannya memasuki Baitul Maqdis, sebaliknya para musuh dan tawanan ia perlakukan dengan adil. Di hari itu, Baitul Maqdis yang mulia kembali ke pangkuan umat Islam melalui sosok panglima hebat nan shalih, Shalahuddin al Ayyubi

Panglima agung nan shalih

Tak diragukan ketaqwaan menjadi hal yang utama untuk membentuk pribadi-pribadi hebat. Taqwa adalah perisai sekaligus tameng untuk setiap keadaan. Kesemua itu tampak pada kesungguhan Shalahuddin untuk menanamkan aqidah yang kuat di dalam dirinya. Tak hanya bagi dia, juga bagi anak-anak keturunannya.

Shalahuddin al Ayyubi senantiasa melazimkan shalat berjamaah, shalat rawatib maupun shalat malam meskipun ia dalam keadaan berbaring karena sakit. Seorang pemimpin yang hebat dan pribadi nan agung akan selalu patuh menghadap sang Rabb dalam setiap shalatnya. Dari sanalah Shalahuddin mendapatkan ketenangan serta mengadukan setiap masalah dan keluhan yang ia hadapi kepada Allah azza wa jalla. Seseorang yang mengagungkan Tuhannya, niscaya menjadi pribadi yang hebat dan agung.

Murid Nuruddin Zanki ini juga dikenal sebagai pribadi yang suka mendengar bacaan Al-Qur’an hingga ia sendiri yang memilih para imam-imam shalat. Shalahuddin juga merupakan sosok yang teramat lembut hatinya sehingga selalu menetes air matanya saat mendengar dibacakannya ayat-ayat Al Quran. Suatu ketika, ia mendengar suara anak kecil yang melantunkan Al Quran dengan bagus. Hal tersebut membuatnya kagum dan memberikan hadiah pada sang anak makanan khusus yang biasa ia makan. Tak hanya itu, ia juga menghadiahkan satu lahan pertanian untuk ayah sang anak.

Sebagaimana kegemarannya mendengarkan bacaan Al-Qur’an, Shalahuddin juga sangat senang mendengar Hadist-hadist Rasulullah. Jika ia dengar ada seorang syaikh yang memiliki riwayat suatu hadist, ia akan datang padanya atau meminta didatangkan kepadanya. Ia akan mengajak para penguasa beserta orang-orang di sekitarnya untuk ikut mendengarkannya bersama-sama dengannya. Ia juga memerintahkan kepada rakyatnya untuk mendengarkan hadist Rasulullah. Di saat sendiri, Shalahuddin akan meminta didatangkan buku-buku hadist untuk ia baca.

Semua sifat taqwa berkumpul dalam diri Shalahuddin. Membentuknya menjadi pribadi yang kokoh. Dengannya ia menghidupkan jihad dalam dirinya sebelum ia mengendarai kudanya, memegang pedang serta berlari menuju medan pertempuran.

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS:  Al-Imran:120)

Ketaqwaan yang ada pada diri Shalahuddin melahirkan kebaikan serta sifat-sifat mulia lain yang menyertainya. Diantaranya adalah sifat adil yang mutlak wajib dimiliki seorang pemimpin. Sifat pemberani juga mengalir bersama darah di dalam tubuh Shalahuddin. Keberanianlah yang menggerakkan langkah untuk tetap tegar di bawah guyuran hujan, tetap tegak di bawah terik matahari dan tidak goyah menghadap musuh.

Mengambil ibrah dari Shalahuddin dan pembebasan Baitul Maqdis adalah sebuah keharusan bagi kaum Muslim untuk menegakkan kemuliaan agama yang kita selalu impikan. Keinginan untuk membebaskan serta mengembalikan Baitul Maqdis adalah tujuan mulia yang ingin digapai oleh umat Islam, seperti halnya yang dicitakan Shalahuddin serta gurunya, Nuruddin Zanki. Yang penting untuk diperhatikan, generasi Shalahuddin tidak lahir begitu saja di medan perang tanpa ada faktor yang menyertainya. Mereka lahir karena adanya sebab dan proses yang dijalani. Dari keluarga, lingkungan serta masyarakat yang shalih dan kuat beragama, lahir sosok Shalahuddin.

Dari Shalahuddin kita belajar bahwa jihad paling utama yang harus dilakukan sebelum maju di medan tempur adalah terlebih dahulu menghancurkan musuh di dalam diri masing-masing. Sebab di sana ada benteng yang harus dihancurkan sebelum menghancurkan benteng musuh.

Hari ini, Palestina dan Baitul Maqdis terus menyeru kepada kaum Muslim akan kesulitan yang mereka lalui. Sejarah selalu berputar, dan kini ia kembali kepada mereka dengan keadaan penuh derita. Berbagai peristiwa yang terjadi saat ini di tubuh umat Islam memberikan gambaran bahwa keadaan mereka tidak berbeda jauh dengan 10 abad sebelumnya, di masa-masa sebelum pasukan Salib datang menyerang. Jatuhnya Baitul Maqdis dalam perang Salib juga mengajarkan pada kita bahwa perpecahan itu melemahkan dan hanya akan berujung tangis penyesalan. Ia mengajarkan bahwa keinginan untuk saling menjatuhkan hanya akan menjauhkan rahmat Allah untuk memberikan kepada kita kemenangan. Sudah sepatutnya kita kembali membuka lembaran lama. Membacanya dengan saksama seraya mencatat apa yang bisa kita ambil sebagai ibrah dan pelajaran.

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S.Al-Anfal:46)

Semoga Allah mengembalikan Baitul Maqdis dan Palestina ke pangkuan umat Islam. Wallahu’alam bis shawab.*/ Ibnu Ahmad Hrp, dari berbagai sumber

5 Fakta Sultan Salahuddin Al-Ayubi, Macan Perang Salib


Yusuf bin Najmuddin al-Ayyub adalah seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini). Lahir pada tahun 1138 di Tikrit, Irak. Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr.
Ia lebih dikenal dengan nama julukannya yaitu, Salahuddin Ayyubi/Saladin/Salah ad-Din (Bahasa Arab: صلاح الدين الأيوبي, Kurdi: صلاح الدین ایوبی). Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama. Ia memberikan catatan kecil dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud.
Di tahun 1169 Sultan Saladin diangkat menjadi wazir (perdana menteri), dan menerima tugas sulit mempertahankan Mesir dari serangan Raja Latin Yerusalem, khususnya Amalric I. Kedudukannya cukup sulit pada awalnya, sedikit orang yang beranggapan ia akan berada cukup lama di Mesir mengingat sebelumnya telah banyak terjadi pergantian pergantian kekuasaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan bentrok yang terjadi antar anak-anak Kalifah untuk posisi wazir. Sebagai pemimpin dari pasukan asing Suriah, dia juga tidak memiliki kekuasaan atas pasukan Syi’ah Mesir yang masih berada di bawah Khalifah yang lemah, Al-Adid. “Ketika Tuhan memberiku negeri Mesir, aku yakin bahwa Dia juga bermaksud memberiku tanah Palestina,” Kata-kata yang paling di ingat umat Muslim dari Sultan Saladin.
Berikut beberapa fakta tentang Sultan Saladin sang penakluk Yerussalem.

1. Menaklukkan Yerusalem Tanpa Membunuh Warga Sipil


Setelah 88 tahun dikuasai serdadu Perang Salib, kota Yerusalem, Palestina akhirnya kembali jatuh kepangkuan umat Islam. Tepat pada 2 Oktober 1187 atau setelah tiga bulan berjibaku dalam pertempuran Hattin, pasukan tentara Islam yang dipimpin Salahudin Al-Ayubi berhasil menaklukan dan membebaskan kota suci itu dari kedzaliman dan kebiadaban.
Penaklukan Yerusalem yang dilakukan pasukan Islam di bawah komando Salahudin sungguh amat berbeda, ketika tentara Perang Salib menduduki Yerusalem pada 1099. Salahudin menetapi janjinya. Jenderal dan panglima perang tentara Islam itu menaklukan Yerusalem menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi. Tak ada balas dendam dan pembantaian, penaklukan berlangsung ‘mulus’ seperti yang diajarkan Al-Qur’an.
Padahal, ketika 40 ribu tentara Perang Salib yang dipimpin Peter The Hermit menyerbu tanah suci Palestina, mereka datang dengan dirasuki fanatisme agama yang membabi buta. Guna membangkitkan rasa fanatisme itu, menurut Hallam penulis Barat, ‘setiap cara dan jalan ditempuh’. Tak peduli biadab atau tidak, semua ditebas remuk redam. Yerusalem banjir darah dan bangkai manusia. Suasana penuh dendam dan amarah, terjadi pula ketika pasukan Perang Salib tiba di Malleville. Kota itu pun dibumihanguskan. Tak kurang dari tujuh ribu penduduk tak berdosa di kota itu dibantai.

2. Membunuh Tangan Kanan Raja Guy Dalam Pertempuran Perang Salib


Pasukan Salib saat itu dipimpin oleh Guy de Lusignan. Seorang fanatik yang menjadi Raja Yerusalem setelah kematian anak Sibylla, Raja Baldwin V yang menggantikan pamannya, Raja ‘Lepra’ Baldwin IV yang dikenal sangat bijaksana. Guy sangat berambisi menghabisi pasukan Muslim dan yakin bahwa serbuannya ke Tiberias (tempat mukim pasukan Shalahuddin) adalah takdir Tuhan.
Pertempuran Hattin juga sempat mengubah persepsi mengenai Shalahuddin yang dikenal ‘pengampun’ pada musuhnya. Imaduddin al-Ishfakhani, sekretaris Shalahuddin membeberkan kesaksiannya, “Pada hari itu aku menyaksikan bagaimana Shalahuddin membunuh kaum tak beriman untuk memberi napas bagi Islam dan menghancurkan politeisme untuk membangun monoteisme.”
Adalah Reynauld of Chattilon, tangan kanan Guy Sang Raja Yerusalem, yang membuat Shalahuddin berubah jadi sosok kejam. Empat tahun sebelumnya, Reynauld membunuh adik perempuan Shalahuddin saat gencatan senjata masih terjalin antara pasukan salib dengan pasukan muslim. Memperkosa dan membantai seluruh kafilah muslim yang melewati tanah Palestina. Mengeksekusi dan menjarah wilayah-wilayah muslim.
Pada akhirnya saat fajar 4 Juli 1187, berangkatlah pasukan Shalahuddin menyerbu Bukit Hattin tempat pasukan salib berkemah. Mengalahkan begitu telak dan hanya menyisakan sedikit dari mereka. Beberapa baron dan ksatria memang ada yang lolos dari kepungan pasukan Shalahuddin. Beberapa di antaranya adalah Balian de Ibelin, sosok yang akan memimpin milisi dan tentara rakyat Yerusalem mempertahankan kota dari pasukan Shalahuddin beberapa bulan kemudian.
Setelah pertempuran usai, Shalahuddin membawa dua tawanan yang paling berharga ke dalam tendanya. Raja Guy dan Reynauld. Dua pria yang sangat kelelahan sekaligus kehausan. Shalahuddin memberi Guy sebuah air es yang menyegarkan. Guy meminumnya, kemudian memberikan kepada Reynauld.
Sudah dalam tradisi Arab bahwa seorang tuan rumah tidak boleh membunuh lelaki yang ia beri makan dan minum. Ketika Reynauld minum dengan begitu entengnya tanpa perintah tuan rumah, Shalahuddin bertanya, “Siapa yang mengizinkanmu minum?”
Reynauld cuma bergeming. Shalahuddin pun melanjutkan kalimatnya, “Karena itu aku tidak diharuskan menunjukkan belas kasihan kepadamu.” Seketika kalimat itu usai, Shalahuddin langsung mencabut pedang dari sabuknya dan memenggal kepala Reynauld di hadapan Guy yang ketakutan dan yakin bahwa gilirannya akan tiba.
Melihat Guy yang ketakutan Shalahuddin kemudian berkata, “Raja tidak membunuh Raja. Mengapa kamu tidak mendekati seorang raja agung untuk belajar dari keteladanannya?”
Raja agung yang dimaksud adalah Raja Baldwin IV, raja yang menderita penyakit lepra sampai akhirnya meninggal dunia. Meninggalkan Kerajaan Kristen Yerusalem dalam genggaman Raja Guy sang fanatik buta dan membuat Kerajaan Islam akhirnya mampu menguasainya.

3. Bersahabat Baik Dengan Raja Inggris Richard The Lion Heart


Pada suatu ketika Richard The Lion Heart memutuskan untuk memimpin sendiri perang terhadap pasukan Muslim. Kala itu ia memimpin kavaleri tombak, pasukan berkuda elit pasukan Salib. Menghadapi pasukan Muslim Richard benar-benar sangat maksimal. Hingga akhirnya nampak sekali jika ia kelelahan. Bahkan kudanya sendiri seperti sudah tidak bisa dipaksa untuk bermanuver. Hal ini pun kemudian diketahui oleh Salahuddin. Alih-alih membunuh si Raja Inggris, Salahuddin justru menyuruh pasukan berkudanya untuk menyerahkan dua ekor kuda yang masih segar kepada Richard. Sang pemimpin pasukan Crusader ini pun kagum bukan main dengan sikap ksatria Salahuddin.
Saat Raja Richard sakit parah percaya tidak percaya, Salahuddin justru mengirimkan dokter terbaik untuk menyembuhkan Richard. Raja Inggris yang saat itu memang butuh sekali pengobatan merasa kagum luar biasa dengan itikad baik Salahuddin ini. Tak hanya dokter, menurut beberapa riwayat Salahuddin juga membawakan buah dan juga es untuk membantu menyembuhkan sang raja. Begitulah kira-kira sepenggal cerita persahabatan dalam permusuhan yang terjalin dalam Perang Salib.

4. Sultan Saladin Suri Teladan Bagi Umat Muslim


Pernah seorang lelaki mengadukan perihal keponakan Sultan Saladin yang bernama Taqiyyuddin. Shalahuddin langsung memanggil anak saudaranya itu untuk dimintai keterangan. Pernah juga suatu kali ada yang membuat tuduhan kepadanya. Walaupun tuduhan tersebut terbukti tidak berdasar sama sekali, Shalahuddin tidak marah. Ia bahkan menghadiahkan orang yang menuduhnya itu sehelai jubah dan beberapa pemberian lain. Ia memang gemar menyedekahkan apa saja yang dimilikinya dan memberikan hadiah kepada orang lain, khususnya tamu-tamunya. Ia juga dikenal sangat lembut hati, bahkan kepada pelayannya sekalipun. Pernah ketika ia sangat kehausan dan minta dibawakan segelas air, pembantunya menyuguhkan air yang agak panas. Tanpa menunjukkan kemarahan ia terus meminumnya. Kezuhudan Shalahuddin tertuang dalam ucapannya yang selalu dikenang: “Ada orang yang baginya uang dan debu sama saja.” Sungguh mulia akhlak Sultan Saladin yang patut dicontoh untuk kita dan generasi-generasi Muslim selanjutnya.

5. Kematian Sultan Saladin Yang Tak Mempunyai Harta


Sultan Saladin kebanggaan umat Muslim meninggal karena demam selama 12 hari pada 4 Maret 1193, di Damaskus, tak lama setelah kepergian Richard The Lion Heart.
Sultan Saladin yang telah memberikan sebagian besar uangnya untuk amal, ternyata tidak meninggalkan harta kecuali satu dinar dan 47 dirham ketika ia wafat. Tiada rumah-rumah, barang-barang, tanah, kebun dan harta-harta lain yang ditinggalkannya. Bahkan harta yang ditinggalkannya tidak cukup untuk biaya pemakamannya walaupun dia adalah seorang Sultan. Dan Sultan Saladin dimakamkan di sebuah makam yang megah di taman luar Masjid Umayyah di Damaskus, Suriah.
Tujuh abad kemudian, Kaisar Wilhelm II dari Jerman menyumbangkan sarkofagus marmer baru ke makam Sultan Saladin. Namun, tidak ditempatkan di dalamnya. Alasan mengapa pemberian Kaisar itu tidak diletakkan di dalam kubur itu mungkin menghormati keinginan Sultan Saladin untuk tidak mengganggu tubuhnya.
Sultan Saladin adalah pahlawan kemanusiaan bagi dunia. Jasamu bagai kasturi mewangi. Harumnya melewati Baitul Maqdis. Walaupun jasadmu tiada semangatmu tetap menyala. Kekal menjadi aspirasi Mujahid kini dan selamanya. Semoga bermanfaat dan terima kasih.



Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Belajar dari Macan Perang Salib dan Fakta-Fakta nya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini