Mengapa saat ini banyak orang mengaku keturunan Nabi Muhammad padahal anak laki-laki Nabi meninggal di usia kecil ?

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :






Keturunan Nabi Muhammad ﷺ sudah terputus!!!

Ini adalah kalimat yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang mengira bahwa keturunan Nabi Muhammad ﷺ sudah tidak ada atau sudah punah karena semua putra Nabi sudah meninggal sebelum mereka baligh dan nasab seseorang itu diturunkan dari laki-laki.




Jawaban sederhana:

Keturunan Nabi Muhammad ﷺ tidak terputus karena ada hukum penasaban khusus (lex specialis) kepada Nabi Muhammad  dan Nabi Isa alaihissalam.

Loh Nabi Isa? nanti saya jelaskan di bawah.

Jalur nasab seseorang dari laki-laki

Sudah lazim di dunia Islam dan di dunia Arab bahwa nasab ditentukan dari jalur laki-laki, seperti syair Arab pra-Islam: [1]

بنونا بنو أبنائنا، و بناتُنابنوهُنّ أبناءُ الرجال الأباعد!

Artinya: “Putra-putri kita adalah anak putra kita, anak putri kita adalah anak orang lain!” [2]

Tiga anak laki-laki Rasul yaitu Qasim, Abdulllah dan Ibrahim meninggal sebelum baligh [3] sehingga tidak ada keturunan Rasulullah dari jalur laki-laki, yang ada adalah dari jalur Sayyidah Fatimah az-Zahra yang merupakan anak perempuan beliau dan menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Dari kedua orang tersebut lahir Hasan dan Husein. Dari Hasan dan Husein lahirlah keturunan-keturunan Nabi Muhammad .

Kaum Alawiyin yaitu keturunan Nabi Muhammad  dari jalur Husein bin Ali.

Di Indonesia kebanyakan keturunan Nabi Muhammad  berasal dari jalur Husein bin Ali

Silsilah Leluhur Alawiyin di Nusantara. [4]


Sayyid dan Syarifah

Sebelum membahas lebih jauh kita harus bisa bedakan istilah-istilah berikut:

  • Keturunan Nabi Muhammad ﷺ yang berjenis kelamin laki-laki disebut: Sayyid
  • Keturunan Nabi Muhammad ﷺ yang berjenis kelamin perempuan disebut : Syarifah

Bagaimana dengan Habib?

Dalam tradisi umat semula predikat habib hanya disematkan pada sebagian keturunan Nabi yang dinilai berperan penting di tengah masyarakat alim, guru agama, pendakwah, pesuluk dan tokoh masyarakat, seperti Habib Husin Luar Batang, Habib Idrus Aljufri Palu dan Habib Lutfi bin Yahya. [5]Namun, sekarang titel habib itu terjadi degradasi, menjadi panggilan keakraban. Artinya, tak semua orang yang dikenal sebagai cucu Nabi digelari dan dipanggil habib. [6]


1. Perspektif Al-Qur'an

a) Q.S Al-An’am, 6:83-85 [7]

وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَـٰهَآ إِبۡرَٲهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ‌ۚ نَرۡفَعُ دَرَجَـٰتٍ۬ مَّن نَّشَآءُ‌ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ۬ (٨٣)

وَوَهَبۡنَا لَهُ ۥۤ إِسۡحَـٰقَ وَيَعۡقُوبَ‌ۚ ڪُلاًّ هَدَيۡنَا‌ۚ وَنُوحًا هَدَيۡنَا مِن قَبۡلُ‌ۖ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ دَاوُ ۥدَ وَسُلَيۡمَـٰنَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ‌ۚ وَكَذَٲلِكَ نَجۡزِى ٱلۡمُحۡسِنِينَ (٨٤)

وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلۡيَاسَ‌ۖ كُلٌّ۬ مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (٨٥)

Artinya:

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. [8]

Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [9]

Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh[10]

Coba lihat ayat di atas berbicara tentang sejumlah nabi dan anak keturunannya. Disitu juga disebutkan nama Nabi Isa as. Pertanyaannya, siapa ayah Nabi Isa as? Tentulah Nabi Isa as tidak memiliki ayah. Tetapi, dalam ayat tersebut Allah swt menisbatkan Isa as kepada keturunan para Nabi melalui garis ibunya, Maryam.

Demikian juga sayyid, Rasul ﷺ sendiri yang menisbatkan mereka kepada beliau melalui ibu mereka Fathimah.

b) QS. Ali ‘Imran, 3:61[11]

Dalam ayat ini Allah swt juga berfirman,

مَنۡ حَآجَّكَ فِيهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡاْ نَدۡعُ أَبۡنَآءَنَا وَأَبۡنَآءَكُمۡ وَنِسَآءَنَا وَنِسَآءَكُمۡ وَأَنفُسَنَا وَأَنفُسَكُمۡ ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَل لَّعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡڪَـٰذِبِينَ (٦١)

Artinya:

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu yang meyakinkanmu, maka katakanlah (kepadanya), “marilah kita memanggil anak-anak kami (abna ana) dan anak-anak kamu, perempuan kami (nisa ana) dan perempuan kamu, diri kami (anfusana) dan diri kamu. Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta” (QS. Ali ‘Imran -3: 61).

Ayat ini turun ketika Nabi  bermubahalah dengan kaum Nasrani, yang menyertakan nama Ali, Fathimah, Hasan, dan Husen dalam jubah atau kain kisa. Arti dari kalimat abna ana (anak-anak kami) dalam ayat ini adalah Hasan dan Husen. Sementara arti dari nisa ana (perempuan kami) adalah Fathimah. Serta anfusana (diri kami) adalah imam Ali. [12]

Sejumlah ulama ketika menafsirkan surah Ali ‘Imran ayat 61 tersebut mengatakan bahwa Hasan dan Husen adalah keturunan Rasulullah ﷺ karena dalam ayat ini Allah menjadikan Isa as sebagai keturunan Ibrahim. Padahal, Isa as tidak memiliki nasab dari Ayah. Dari garis ibunyalah Isa as bernasab kepada Ibrahim as. Demikian juga Hasan dan Husen sebagai keturunan Rasulullah ﷺ dari garis ibu. Hal ini diantaranya dijelaskan dalam Tafsir “al-Kabir” karya Imam Fakhrurrazi, jilid 7, juz 13, hlm.66, (2). Kitab “al-Ihtijaj”, juz 2, diskusi No.271, hal.335, (3). Syarah “Nahjul Balaghah” oleh Abu Bakar alRazi. [13]

2. Perspektif Hadist

Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah azza wajalla menjadikan keturunanku dalam sulbi Ali bin Abi Thalib”.

.

Pada kesempatan lain ketika Nabi  sedang duduk dengan Abbas, Ali datang menemui Rasul. Setelah menjawab salam Ali, lalu Rasul merangkul dan mencium kening Ali. Melihat ini, Abbas bertanya pada Rasul, “Apakah anda mencintainya?”. Rasul menjawab, “Wahai paman, demi Allah, Allah lebih mencintainya daripada aku. Allah menjadikan keturunanku dalam sulbi orang ini”.

Ash Shalabi menukil riwayat Ahmad menuturkan dari Abu Yala al Amiri, tatkala ia pergi bersama Rasulullah  untuk makan yang mana mereka diundang untuk itu. Dia mengatakan,

“Rasulullah datang di hadapan orang-orang, sedang Husein bermain dengan beberapa anak anak yang lain. Rasulullah hendak menggendongnya, tapi Husein justru berlari ke sana kemari, maka Husein dan Rasulullah keduanya tertawa hingga Rasul menangkapnya.”

Kemudian Nabi meletakkan salah satu tangannya di belakang kepala Husein dan tangan yang lainnya di bawah dagu, dan Nabi mencium Husein dan bersabda, “Husein dariku, dan aku dari Husein. Ya Allah, cintailah mereka yang mencintai Husein; Husein adalah salah satu cucuku.” [14]

Dalam kitab Siyar A’lam an Nubala’, diriwayatkan dari Ali terkait kisah Hasan dan Husein, dia berkata,

“Hasan adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah pada bagian dada sampai kepala beliau, sedangkan al Husein lebih mirip beliau pada bagian bawah.”

Abu Bakar berkata, “Aku melihat Rasulullah di atas mimbar sedang Hasan berada di sampingnya, maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya cucuku ini adalah pemimpin, dan semoga Allah memperbaiki dua kelompok yang di antara kaum muslim melalui dirinya’.”[15]

Banyak hadist-hadist mu’tabar yang Rasul saw menyatakan bahwa Hasan dan Husen sebagai anak-anaknya. Sering Nabi ﷺ memperkenalkan kepada sahabat-sahabat beliau sambil berkata, “inilah kedua anakku”. Penasaban mereka sebagai anak-anak Nabi ﷺ tentu menjadi penasaban istimewa dalam Islam. Dan inilah kelebihan dan hak prerogratif Rasul.

Apa yang diucapkan Rasul ﷺ menjadi hukum dalam Islam. Dan hal ini menjadi hukum penasaban khusus dalam agama Islam. Hukum khusus lainnya dapat dilihat dalam semua mazhab Islam dimana sayyid dan syarifah adalah golongan yang haram menerima dan memakan zakat serta menerima sedekah, semiskin apapun mereka. Ini hadist, perintah Nabi ﷺ yang menjadi hukum Islam.

Diriwayatkan dari Abu Haura, “Aku pernah bertanya kepada Hasan, ‘Apa yang kamu ingat dari Rasulullah?’ Dia menjawab, ‘Aku ingat bahwa aku telah mengambil sebuah kurma dari kurma sedekah, kemudian aku memasukkannya ke dalam mulutku, maka Rasulullah lalu mengeluarkannya.’

Kemudian beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa kurma ini tidak boleh dimakan oleh anak ini?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya keluarga Muhammad tidak boleh memakan sedekah.'. [16]

Tentang pengecualian masalah zakat dan sedekah ini, Rasul  ingin menjelaskan kekhususan keturunannya melalui Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra sekaligus ingin menyatakan bahwa beliau tidak menuntut upah dan harta apapun atas pekerjaannya berdakwah untuk umat.


Pernyataan mengenai putusnya keturunan Nabi Muhammad ﷺini sudah terjadi bahkan sejak Nabi masih hidup!

Dalam sejarah awal Islam, kelompok yang paling senang ketika mengetahui Nabi  tidak punya anak laki-laki (yang hidup sebagai penerus keturunan) adalah kaum Yahudi dan Bani Umayyah.

Bani Umayyah ini adalah pesaing utama Bani Hasyim (klan-nya Nabi  ). Padahal dua kaum ini sama-sama dari suku Quraisy. Awalnya bersaudara sejak masa jahiliah, tetapi akhirnya bersaing memperebutkan kepemimpinan kota Mekkah, termasuk dalam hal penjagaan Kakbah.

Tetapi Bani Hasyim lebih dicintai oleh masyarakat sehingga memenangkan leadership kota Makkah, baik secara politik maupun spiritual. Bahkan salah satu cicit Hasyim, yaitu Muhammad , merupakan sosok paling dicintai dan dipercayai oleh warga Mekkah karena kejujurannya (al-Amin). Anak turunan Bani Hasyim ini pula yang kemudian dipilih Tuhan menjadi pemimpin dunia.

Hal ini tentu semakin membuat sakit hati Bani Umayyah. Sehingga tidak heran, salah satu perlawanan terbesar terhadap risalah yang dibawa Muhammad  datang dari Abu Sufyan dan anak-anaknya. Abu Sufyan termasuk orang yang paling akhir masuk Islam. Ia baru menerima kebenaran yang dibawa Muhammad  ketika “futuh Mekkah”.

Artinya, ia menerima Islam justru ketika sudah berada dalam posisi sangat tersudutkan dan tidak lagi punya kekuatan untuk melakukan perang terbuka. Padahal, kelompok Umayyah ini masih menyimpan hasrat untuk menjadi penguasa Arab dan Mekkah. Tapi kemunculan Islam dibawah Muhammad  telah menghalangi impian mereka.

Itulah sebabnya, sindiran sering dilakukan kepada Muhammad  karena tidak punya anak-laki. Mereka senang karena menganggap “trah” Muhammad sudah terputus.

Atas sikap ini Allah subhanahu wa ta'ala mengutuk mereka, melalui surat Al-Kautsar ayat ke-3.
“… Sesungguhnya merekalah yang 
terputus” (QS. Al-Kautsar -108: 3).

Juga melalui lisan Nabi-Nya, baik melalui berbagai hadist baik yang sudah dibahas maupun hadist-hadist lainnya, disebutkan bahwa keturunan Muhammad  adalah dari anaknya Fathimah, serta tidak akan terputus sampai hari kiamat.

Sebagaimana diriwayatkan, Rasul  bersabda,
Setiap hasab dan nasab terputus pada hari kiamat kecuali hasab dan nasabku”.

Dari hadist ini kita juga memahami mengapa kaum habibsayyid, atau syarif termasuk kelompok yang paling rapi pencatatan nasabnya di muka bumi. Ada lembaga resmi yang mereka kelola sendiri untuk mencatat nasab keluarga di seluruh dunia, dan -atas izin Allah- tidak akan terputus sampai kiamat.

Saya kutipkan dari jawaban Pak Maman Ahmad.

Nama lembaga tersebut adalah Rabithah 'Alawiyyah. Rabithah 'Alawiyyah inilah lembaga resmi yang secara khusus mengurusi nasab para keturunan Rasulullah ﷺ. [17]

Formulir permohonan nasab di Rabithah 'Alawiyyah


Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa keturunan Rasulullah ﷺ berasal dari jalur perempuan?

Menurut saya, alasannya (opini subjektif):

1) Rasulullah ﷺ ingin memuliakan anak perempuan

Diriwayatkan bagaimana Nabi  dengan bangga membawa Fathimah dikeramaian Mekkah sambil berteriak menyatakan bahwa ini adalah anaknya. Padahal, di zaman itu, memiliki anak perempuan pada masa itu bukanlah sesuatu yang membanggakan. Bahkan ada kasus-kasus jahiliah yang membunuh anak perempuannya karena rasa malu.

Tetapi tidak demikian dengan Nabi . Selain bangga dengan anak perempuannya, beliau membuat pernyataan hukum yang mengejutkan, bahkan masih sulit diterima oleh sebagian orang sampai hari ini:

“Keturunanku adalah dari anak perempuanku, Fathimah.” Seperti tersebut dalam hadist yang sanadnya dari Umar bin Khatab juga disebutkan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Semua anak dari perempuan bernasab kepada ayah mereka, kecuali yang dilahirkan Fathimah. Akulah ayah mereka”.

Hadist ini dapat dibaca dalam Allamah al-Kanji dalam “Kifayah at-Thalib”, hal.381.

2) Allah mewafatkan putra Nabi ﷺ agar tidak terjadi pengkultusan terhadap putra-putra beliau dan ingin membuktikan bahwa beliau memang nabi terakhir dan nabi penutup

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya:

''Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.'' (QS Al-Ahzab [33]: 40)

Kemudian,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ

''Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.'' (QS Ali Imran [3]: 144).

Ibnu Abbas, sahabat sekaligus ahli tafsir terkemuka di zaman Nabi mengomentari ayat di atas,

"Seolah-olah Allah berkehendak dengan firmanNya, kalaulah Allah tidak menutup nabi-nabi dengan kenabian Muhammad, seolah Allah berfirman, pasti Aku jadikan seorang Nabi di antara anaknya. Tapi Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu. Kenapa tidak menjadikan salah satu anak Muhammad sebagai Nabi dan Rasul karena memang Allah berkehendak Muhammad sebagai Nabi terakhir."

Selain itu, menurut saya agar tidak terjadi pengkultusan berlebihan terhadap putra Nabi . Namun, sekarang sudah terjadi dengan adanya syiah yang mengkultuskan Hasan dan Husein.


Kesimpulan:

Maka jelas sudah, bahwa keturunan Nabi adalah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein dari Sayyidah Fathimah. Ini sebagaimana Nabi Isa as yang sebelumnya telah saya jelaskan di atas, bersambung nasabnya kepada Nuh dari pihak ibunya Maryam (QS. al-An’am -6: 84-85). Artinya, penasaban Hasan dan Husen kepada Nabi , walaupun dari pihak ibu, tidak terhalang. Seperti penasaban Isa as kepada Nuh as melalui ibunya, Sayyidah Maryam.

Inilah hukum penasaban khusus yang bersifat lex specialis, hak istimewa Rasul , yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadist. Kalau Allah dan Rasul  sudah mengatakan seperti itu, apakah kita ingin membantah? Pun Rasul  sendiri bukan jenis orang yang asal ngomong. Beliau tidak berkata sembarangan, kecuali sesuatu yang diwahyukan, “wama yanthiqu ‘anil hawa, inhuwa illa wahyu yuuha” (QS. an-Najm -53: 3-4).

Penutup.

Mungkin beberapa orang tidak terima jika ada keturunan Nabi kok berbuat buruk sehingga mengira bahwa keturunan Nabi sudah terputus. Tetapi, meskipun sayyid keturunan Nabi , namun dalam hal amal, Rasul ﷺ tidak membedakan antara orang Arab dan orang 'ajam (di luar Arab). Karena yang paling mulia di sisi Allah adalah yang bertaqwa.


Wallahu'alam.

الَّلهـُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِـناَ مُحَمَّـدٍ

Catatan Kaki



Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Mengapa saat ini banyak orang mengaku keturunan Nabi Muhammad padahal anak laki-laki Nabi meninggal di usia kecil ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini