Mengenal Syekh Abdur Qadir Jailany, Kenapa banyak yang Agungkannya ?

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :






Syekh Abdur Qadir Jilany adalah adalah imam yang zuhud dari kalangan sufi. Nama lengkap beliau adalah Abdul Qadir bin Abi Sholih Abdulloh bin Janki Duwast bin Abi Abdillah bin Yahya bin Muhammad bin Daud bin Musa bin Abdillah bin Musa al-Hauzy bin Abdulloh al-mahdh bin Al-Hasan al-mutsanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailani dinisbahkan ke sebuah tempat di dekat thobristan yaitu Jiil, atau Jilan atau Kilan

Beliau lahir tahun 471 H di Jiilan dan Kemudian di masa mudanya beliau pergi ke Baghdad dan belajar dari al-Qadhy Abi Sa'd al-Mukhorromy. Beliau pun banyak meriwayatkan hadits dari sejumlah ulama pada masa itu di antaranya; Abu Gholib al-Baqillany dan Abu Muhammad Ja'far as-Sirraj.

Syekh 'Izuddin bin Abdissalam mengatakan: "Tidak ada seorangpun yang karamahnya diriwayatkan secara mutawatir kecuali Syekh Abdul Qadir Jiilany." Syekh Nuruddin asy-Syathonufy al-Muqry mengarang sebuah buku yang menjelaskan tentang sirah dan karamah beliau dalam 3 jilid, dalam buku tersebut dikumpulkan semua berita yang berkaitan dengan syekh baik itu berita yang benar, palsu maupun hanya cerita rekaan.




Di antara cerita yang terdapat dalam buku tersebut adalah sebuah kisah yang diriwayatkan dari Musa bin Syekh Abdul Qadir al-Jilany ia berkata: Aku mendengar ayahku bercerita: Pada suatu waktu, ketika aku sedang berada dalam perjalanan di sebuah gurun. Berhari-hari lamanya aku tidak menemukan air, dan aku sangat kehausan. Tiba-tiba ada awan yang melindungiku dan turun darinya setetes air kemudian aku meminumnya dan hilang rasa dahagaku, kemudian aku melihat cahaya terang benderang, tiba-tiba ada suara memanggilku, "Wahai Abdul Qodir, Aku Rabbmu dan Aku telah halalkan segala yang haram kepadamu." Maka Abdul Qodir berkata: "Pergilah wahai engkau Syetan terkutuk." Tiba-tiba berubah menjadi gelap dan berasap, kemudian ada suara yang mengucapkan: "Wahai Abdul Qodir, engkau telah selamat dariku (syetan) dengan amalmu dan fiqihmu." Demikian sedikit kisah tentang Abdul Qodir.

Syekh Abdul Qadir memiliki 49 orang anak, 27 di antaranya adalah laki-laki. Beliaulah yang mendirikan tariqat al-Qadiriyah. Di antara tulisan beliau antara lain kitab Al-Fathu Ar-Rabbani, Al-Ghunyah li Thalibi Thariq Al-Haq dan Futuh Al-Ghaib. Beliau wafat pada tanggal 10 Rabi?ul Akhir tahun 561 H bertepatan dengan 1166 M pada saat usia beliau 90 tahun.

Adapun penyebab kenapa begitu banyak orang di zaman sekarang yang mengagungkan beliau, adalah karena beliau termasuk orang yang sholih dan banyak karomahnya. Hanya saja kebanyakan dari mereka bersikap berlebih-lebihan dalam hal tersebut (al-Ghulu) dan menempatkan beliau di atas derajat para Nabi. Tentunya hal tersebut adalah perbuatan yang dilarang. (Tarikhul Islam Lidz-Dzahaby tahun 561-570 H, Siyar A'lam an-Nubala' 20/439-451) (Galafath)


Ini 5 Wasiat Syaikh Abdul Qadir Jailani yang Banyak Dikutip Para Ulama


Syaikh Abdul Qadir Jailani dikenal sebagai seorang ahli fikih yang sangat dihormati di kalangan Sunni. Beliau juga dikenal sebagai wali dalam tradisi tasawuf dan taraket. Ulama kelahiran Persia dan berasal dari suku Kurdi ini mendapat penghormatan yang luar biasa dalam banyak pengikut tarekat di muka bumi ini.
Begitu dihormatinya beliau, hingga namanya mempunyai banyak sekali pelafalan dan penulisan, seperti Abdul Qadir Jaelani, Abdulqadir Gaylani, Abdelkader, Abdul Qadir, Abdul Khadir – Jilani, Jeelani, Gailani, Gillani, Gilani, Al Gilani, Keilany, dan masih banyak lainnya.
Para pengikut tarekatnya di kemudian hari menamakan jamaahnya sebagai jamaah Tarekat Qadiriyyah. Berikut 5 wasiat terpenting Syakh Abdul Qadir Jailani yang rugi bila kita tidak tahu:

1. Wasiat tentang Syirik 

Syaikh Abdul Qadir Jailani membedakan syirik menjadi dua: (1) syirk zahir (tampak); (2) syirk batin (tidak tampak). Yang termasuk syirk zahir di antaranya menyembah berhala. Sementara itu, yang termasuk syirik batin adalah bergantung pada makhluk, dan melihat mereka dari sisi baik dan buruknya.
Seorang muslim dianggap belum bertauhid sebelum dia terbebas dari syirk zahir. Namun, terkadang  dia belum terhindar dari syirk batin. Dengan demikian, perhatian sang syekh dilakukan dengan cara memberikan penjelasan terhadap masalah tadi. Tentunya, banyak usaha untuk mengobati penyakit tersebut dengan senantiasa menjelaskan bahayanya. Berikut wasiat beliau yang terkenal terkait syirik:
“Nak, diri kalian belum berarti apa-apa. Islam kalian tidak sah. Kalian mengucapkan La ilaha Illallah, tetapi mendustakannya. Dalam hati kalian  terdapat sejumlah tuhan. Rasa takut kalian pada penguasa dan  pemimpin berarti kalian mempertuhan mereka. Bersandar pada usaha, kekuatan, dan kekejaman kalian berarti menganggap itu sebagai tuhan. Melihat baik dan buruk, pemberian dan penolakan makhluk berarti kalian menjadikan itu sebagai tuhan kalian. Bagaimana kalian katakan Lailaha Illallah, sementara di hati terdapat banyak tuhan. Intinya, segala sesuatu selain Allah yang menjadi sandaran dan perlidungan kalian adalah berhala kalian. Tauhid hanya pada ucapan saja tidak bermakna apa-apa jika disertai dengan syirik dalam hati.”

2. Wasiat terkait Berpegang pada Alquran dan Sunah
Syariah Islam adalah syariah yang  berdasarkan Alquran dan Sunah. Oleh karenanya, supaya perbuatan seorang muslim diterima, maka perbuatannya itu mesti sesuai dengan keduanya. Dengan demikian, perhatian sang syaikh untuk menjadikan Alquran sebagai dasar hukum dan mengamalkannya, sangat besar. Sangat sedikit sekali forum pengajiannya yang tidak menyebutkan hal di atas.
Sang syaikh pernah berwasiat, “Orang yang tidak mengikuti Nabi, mengambil syariahnya dengan sebelah tangan, Alquran pada tangan satu lagi, dan dia tidak akan sampai pada Allah, maka dia celaka dan mencelakakan, sesat dan menyesatkan. Keduanya merupakan  jalan kalian: Alquran jalan menuju Allah dan Sunah jalan menuju Rasulullah.”

3. Wasiat tentang Ulama yang Buruk

Di setiap masa ada saja ulama yang perilakunya tidak sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Syaikh melihat bahaya besar dari ulama seperti itu terhadap masyarakat yang melihat perilaku mereka sebelum mempertimbangkan dan mendengar kata-katanya.
Oleh sebab itu, dasar kritikan sang syaikh terhadap ulama sangat kuat. Kata-katanya tegas, karena mereka mengucapkan sesuatu yang mereka sendiri tidak melaksanakannya.  Terkait dengan ini, sang syaikh pernah berwasiat, “Hei musuh Allah dan Rasulullah! Kalian benar-benar zalim dan munafik. Sampai kapan kemunafikan kalian itu?  Hei ulama zuhud! Betapa munafiknya kalian  terhadap raja dan penguasa sampai-sampai mengambil kekayaan dan kenikmatan dunia dari mereka.”
Sang syaikh mengajak dan meminta masyarakat agar tidak mendengar ulama yang seperti itu. Nasihatnya, “Janganlah kalian mendengar mereka yang membahagiakan hati, tunduk pada penguasa, mereka seperti taburan debu, tidak melaksanakan perintah-Nya, dan tidak meninggalkan larangan-Nya. Mereka yang berbuat seperti itu, munafik dan pura-pura. Semoga Allah membersihkan bumi ini dari mereka dan dari kemunafikan. Semoga Allah membukakan pintu tobat dan pintu hidayah kepada mereka.”

4. Wasiat tentang Tasawuf

Syaikh memandang bahwa tasawuf telah menyimpang dari makna sebenarnya. Tampak para sufi melakukan perbuatan-perbuatan menyimpang dengan tujuan untuk membersihkan jiwa. Oleh karenanya, sang syakh segera menasihati mereka.
“Hai orang berbaju kesufian!  Pakailah kesufian kalian bermula dari sanubari, hati, jiwa, kemudian badan. Zuhud berawal  dari situ. Bukan dari zahir ke batin. Jika sanubari bersih, maka hati, jiwa, anggota tubuh, makanan, dan pakaian, akan bersih pula. Kemudian, segala tingkah laku pun akan bersih. Yang pertama kali dibangun adalah dalam rumah. Setelah bangunan rumah selesai, baru kemudian membuat pintu. Tidak berarti bagian luar tanpa ada bagian dalam.”

5. Wasiat tentang Meluruskan Konsep Tawakal

Sebagian orang mengira bahwa tawakal itu menafikan bekerja. Oleh karenanya, syaikh berusaha keras dalam majelis pengajiannya untuk meluruskan pemahaman seperti itu, sekaligus menjelaskan bahwa tawakal itu tidak menafikan bekerja. Berikut beberapa wasiatnya dalam hal ini:
“Belilah keranjang dan bekerjalah. Carilah pekerjaan, maka kalian akan bekerja. Carilah sebab yang wajar dengan terus bekerja dan tetap bertawakal pada Allah!”
“Ambillah keranjang kalian dan bekerjalah sehingga ketika orang menyuruh  kalian akan mudah. Tinggalkan tempat tidur dan selimut. Jangan kemudian dari balik pintu kalian mencari pekerjaan.”
“Para nabi pun senantiasa memadukan antara usaha dan tawakal. Oleh karenanya, orang yang meninggalkan usaha dan mengemis pada orang lain akan mendapat siksa Allah”



Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Mengenal Syekh Abdur Qadir Jailany, Kenapa banyak yang Agungkannya ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini