DN Aidit Sebut Pancasila Nantinya Tak Akan Ada Lagi. Bung Karno Langsung Marah Besar

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :






Presiden pertama Sukarno disebut marah atas pidato Ketua CC PKI DN Aidit pada Mei 1964. Sebab Aidit menilai Pancasila mungkin untuk sementara dapat mencapai tujuannya sebagai faktor penunjang dalam menempa kesatuan dan kekuatan Nasakom.

Begitu Nasakom menjadi realitas, Aidit menganggap Pancasila dengan sendirinya tak akan ada lagi.

“Presiden Sukarno marah besar mendengar pidato Aidit seperti itu. Bung Karno memerintahkan jajarannya agar 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Peringatan berhasil dilaksanakan pada 1 Juni 1964 dan Presiden Sukarno berpidato “Pancasila Sepanjang Masa” sebagai antitesis pidato Aidit,” ungkap Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah.



Hal itu disampaikan Basarah saat seminar daring bertajuk “Pancasila Dalam Gotong Royong Menuju Indonesia Maju”, Senin (8/6/2020).

Ia mengatakan, “Sejak saat itu, hari lahirnya Pancasila selalu diperingati. Tapi pada 1970 peringatan dilarang, padahal 1 Juni 1968, Soeharto masih berpidato peringatan Hari Lahir Pancasila.”

Menurut Basarah, Pancasila sepatutnya tetap langgeng dan lestari walau rezim pemerintahan berganti. Basarah menyatakan ideologi Pancasila ditetapkan dalam meja statis.

“Dalam meja ini lah semua sejajar. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Itulah pancasila sebagai meja statis. Pancasila juga berfungsi menjadi bintang pemimpin, menjadi kompas atau panduan,” ucap Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut.

Profil DN Aidit

Dipa Nusantara Aidit (lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 30 Juli 1923 – meninggal di Boyolali, Jawa Tengah, 22 November 1965 pada umur 42 tahun)[3] adalah seorang pemimpin senior Partai Komunis Indonesia (PKI). Lahir dengan nama Ahmad Aidit di Pulau Belitung, ia akrab dipanggil "Amat" oleh orang-orang yang akrab dengannya. Aidit mendapat pendidikan dalam sistem kolonial Belanda.

Menjelang dewasa, Achmad Aidit mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit.[5] Ia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang menyetujuinya begitu saja.

Dari Belitung, Aidit berangkat ke Jakarta, dan pada 1940, ia mendirikan perpustakaan "Antara" di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat. Kemudian ia masuk ke Sekolah Dagang ("Handelsschool"). Ia belajar teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia). Dalam aktivitas politiknya itu pula ia mulai berkenalan dengan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mohammad Yamin. Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepadanya, dan Achmad menjadi anak didik kesayangan Hatta. Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.

Meskipun ia seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern), Aidit menunjukkan dukungan terhadap paham Marhaenisme Sukarno[6] dan membiarkan partainya berkembang tanpa menunjukkan keinginan untuk merebut kekuasaan. Sebagai balasan atas dukungannya terhadap Sukarno, ia berhasil menjadi Sekjen PKI, dan belakangan Ketua. Di bawah kepemimpinannya, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.

Dalam kampanye Pemilu 1955, Aidit dan PKI berhasil memperoleh banyak pengikut dan dukungan karena program-program mereka untuk rakyat kecil di Indonesia. Dalam dasawarsa berikutnya, PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer. Berakhirnya sistem parlementer pada tahun 1957 semakin meningkatkan peranan PKI, karena kekuatan ekstra-parlementer mereka. Ditambah lagi karena koneksi Aidit dan pemimpin PKI lainnya yang dekat dengan Presiden Sukarno, maka PKI menjadi organisasi massa yang sangat penting di Indonesia.



Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ DN Aidit Sebut Pancasila Nantinya Tak Akan Ada Lagi. Bung Karno Langsung Marah Besar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini