Headline Koran 8 Nov 1945: 60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia Siap Berjihad Fi Sabilillah

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :










INI adalah HEADLINE MEDIA MAINSTREAM 8 NOVEMBER 1945, menyambut Pertempuran besar 10 November 1945.

60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia Siap Berjihad Fi Sabilillah
Perang didjalan Allah oentoek menentang tiap-tiap pendjadjahan

Thomas Stamfford Raffles dalam ‘History of Java’ telah mengingatkan bila Ulama sudah bekerjasama dengan Penguasa Pribumi, jangan harap kaki penjajah akan dapat tegak dengan aman di Nusantara Indonesia.

Dr. Douwwes Dekker (Setyabudi Danudirdja) menyatakan bahwa:

“Apabila Tidak ada semangat Islam di Indonesia, sudah lama kebangsaan yang sebenarnya lenyap dari Indonesia” (dalam Aboebakar Atjeh, Riwayat Hidup A. Wahid Hasjim. Djakarta, 1957. Hal 729)
Jadi jangan heran mengapa Perjuangan kemerdekaan sangat kental dengan Spirit Jihad Fii Sabilillah, karena memang para Ulama dan santrilah yang terdepan menggemakan Prinsip ‘Hidup Mulia atau Mati Syahid’.

Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 22 Oktober 1945 berkembang menjadi Resolusi Jihad Partai Politik Islam Masyumi 7 November 1945 pengaruhnya membangkitkan semangat "60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia Siap Berdjihad Fi Sabilillah." Perang di djalan ALLAH oentoek menentang tiap tiap Pendjadjahan.

(HeadLine Harian "KEDAULATAN RAKJAT", 08
November 1945)

Kehadiran Kyai-kyai sepuh semisal Chodroetoes Sjeich KH. Hasyim Asy’ari dari pesantren Tebu Ireng Jombang, KH. Asjhari dan Kyai Toenggoel Woeloeng dari Jogjakarta, KH. Abbas dari pesantren Buntet Cirebon, dan Kyai Moestofa Kamil dari Partai Syarikat Islam Garut mampu membangkitkan perlawanan santri untuk maju terus pantang mundur, juga kisah legendaris 'Bambu Runcing' Kyai Soebhi Parakan-Magelang.

Mati di medan perang melawan penjajah Barat adalah mati yang indah, lebih baik gugur sebagai syuhada daripada hidup terjajah. Bunga-bunga bangsa berguguran, bau wangi surga semerbak di tanah jihad Surabaya.

Tanggal 10 November 1945 Surabaya berubah menjadi lautan api dan darah. Dilanjutkan dengan peristiwa pertempuran di Sasak Kapuk Bekasi dipimpin Kyai Haji Noer Ali dan Laskar Pencak Silat pimpinan Haji Ama Poeradiredja. Maupun peran Kyai Cibaduyut memimpin penyerbuan yang tak terduga ke gudang senjata dan gudang seragam tentara sekutu di Bandung.

Begitu juga kerjasama para ulama dan santri serta Tentara keamanan Rakyat-TKR dalam Perang Sabil di Sumatera, lewat kepahlawanan pemuda Aceh terhadap sekutu dipimpin Residen Teuku Nyak Arief dan Tengku Daud Beurueh.

Bercermin pada ungkapan Raffles sang pendiri "Singapura" juga pernyataan Dr Douwwes Dekker atas realitas kekinian. Kira-kira Dimana posisi para Ulama dan Penguasa Indonesia saat ini ?



 Para Pejuang di Pertempuran 10 November Surabaya yang Dicap "Moslem Fanatics"


Perlawanan dan pertempuran heroik di Surabaya 10 November 1945 melawan tentara sekutu yang dilakukan rakyat Indonesia yang digerakkan parai kyai, santri dengan semangat Jihad Fii Sabilillah mengusir penjajah, namun pihak barat mencap sebagai "muslim fanatics". Demikianlah judul headline yang ditulis koran Amerika, The New York Times, edisi 20 November 1945: MOSLEM FANATICS FIGHT IN SURABAYA.



Ternyata kebiasaan barat mencap fanatik, radikal, fundamentalis, teroris terhadap pejuang muslim bukan hanya terjadi era sekarang, tapi sejak zaman bahula. Begitulah watak para penjajah kapan dan dimanapun, termasuk para pejuang Hamas Palestina yang dicap teroris oleh penjajah Israel.

Pertempuran Surabaya merupakan konflik bersenjata skala besar pertama antara Indonesia dan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pertempuran Surabaya dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Kedatangan Tentara Inggris & Belanda

Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Pada 18 September 1945, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato Surabaya yang akhirnya dirobek dan dibuang warna birunya oleh pejuang Indonesia.

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris.

Pada 10 November 1945 pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat.

JIHAD FI
SABILILLAH

21-22 Oktober 1945, wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Dipimpin langsung oleh Rois Akbar NU Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ary dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad. Belakangan deklarasi ini populer dengan istilah Resolusi Jihad.
Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Dua minggu kemudian, tepatnya 10 November 1945, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan para pahlawan pribumi yang siap gugur sebagai syahid. Inilah perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara.

Para kiai dan pendekar tua membentuk barisan pasukan non reguler Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Maskur. Para santri dan pemuda berjuang dalam barisan pasukan Hizbullah yang dipimpin oleh H. Zainul Arifin. Sementara para kiai sepuh berada di barisan Mujahidin yang dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah. 

PEKIK TAKBIR BUNG TOMO

Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 – meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, seorang pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA.

Surabaya, Sabtu 10 November 1945 yang bertepatan dengan tanggal 4 Dzulhijjah 1364 H, di hari hari penuh keutamaan di awal Bulan Dzulhijjah. Disiarkan stasiun Radio Republik Indonesia (RRI), Bung Tomo yang bernama asli Sutomo, berpidato dengan lantang dimulai dengan Basmallah dan diakhiri Takbir yang membahana dan berhasil menggetarkan hati setiap mukmin sejati Surabaya untuk berjihad fii sabilillah melawan tentara sekutu yang hendak menduduki Indonesia.

AKHIR DAN HASIL PERTEMPURAN

Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia gugur dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris kira-kira sejumlah 600-2000 tentara.

Meskipun Indonesia kalah dalam Pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.[]

__



Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Headline Koran 8 Nov 1945: 60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia Siap Berjihad Fi Sabilillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini