Sejarah dan Riwayat Gejolak Kerajaan Arab Saudi dan Iran dalam 20 Tahun Terakhir

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :






Otoritas Arab Saudi dengan tegas memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, usai kedutaannya di Teheran diserang. Pemutusan hubungan ini makin memperdalam krisis antara kedua negara yang terus berlangsung selama 20 tahun terakhir.

Penyerangan gedung Kedutaan Besar Saudi di Teheran pada Minggu (3/1) merupakan bentuk protes terhadap eksekusi mati ulama Syiah terkemuka, Nimr Baqr al-Nimr. Reaksi keras juga diberikan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang mengatakan pembalasan Tuhan atas eksekusi mati ulama Nimr akan melanda keluarga Al-Saud yang memimpin Kerajaan Saudi.


Ketegangan Arab Saudi-Iran semakin memburuk usai eksekusi mati ulama Syiah Nimr Baqr al-Nimr (Basith Subastian/detikcom)


Jauh sebelum itu, hubungan antara Saudi dengan Iran memang tidak pernah akur. Saudi yang didominasi Sunni dan Iran yang didominasi Syiah selalu berbeda pendapat dan berada di posisi bertentangan dalam sejumlah isu.

Sebagai contoh, dalam konflik Suriah, Iran mendukung rezim Bashar al-Assad, sedangkan Saudi menentangnya. Kemudian dalam konflik Yaman, Iran memprotes keras koalisi pimpinan Saudi yang melawan pemberontak Syiah Houthi, yang didukungnya.

Berikut rangkuman naik-turunnya hubungan Saudi dengan Iran selama sedikitnya 20 tahun terakhir seperti dilansir Reuters, Selasa (5/1/2016):

Tahun 1987, Insiden Haji di Makkah

Hubungan antara Arab Saudi dengan Iran dipenuhi ketegangan nyaris memuncak pada Juli 1987 ketika sedikitnya 402 jamaah haji, yang sekitar 275 orang di antaranya berasal dari Iran, tewas dalam tragedi di Makkah, Saudi.

Reaksi keras atas insiden itu muncul di Teheran, saat warga berunjuk rasa di jalanan hingga menduduki Kedutaan Besar Saudi dan membakar Kedutaan Besar Kuwait.

Satu diplomat Saudi yang bernama Mousa'ad al-Ghamdi tewas akibat luka yang dideritanya ketika terjatuh dari jendela, saat penyerbuan terjadi. Saat itu. otoritas Saudi menuding Iran sengaja memperlambat evakuasi al-Ghamdi ke rumah sakit di Saudi.

Akibatnya, hubungan diplomatik kedua negara diputus oleh Raja Saudi Fahd pada April 1988.

Tahun 1999, Hubungan Arab Saudi-Iran Sedikit Membaik

Raja Saudi Fahd menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden Iran Mohammad Khatami atas kemenangannya dalam pemilu tahun 2001. Hal ini, menurut Raja Fahd, merupakan bentuk dukungan bagi kebijakan reformasi Presiden Khatami saat itu.

Presiden Khatami yang merupakan ulama Syiah, mengupayakan pemulihan hubungan dengan Saudi setelah menang telak dalam pemilu tahun 1997. Upaya ini mengakhiri ketegangan hubungan kedua negara yang telah berlangsung selama dua dekade usai revolusi Islam di Iran tahun 1979 silam.

Tahun 1999, Presiden Khatami mengunjungi Saudi. Ini tercatat sebagai kunjungan resmi pertama seorang presiden Iran ke Saudi semenjak revolusi 1979. Kedua negara berusaha menjalin hubungan lebih baik melalui pakta keamanan yang disepakati pada April 2001.


Tahun 2003, Perseteruan Kawasan

Invasi ke Irak yang menggulingkan Saddam Hussein semakin memperkuat dominasi Syiah di Iran. Penggulingan ini berdampak pada perubahan arah politik Irak terhadap Iran. Pemerintah Irak yang tadinya dikuasai Sunni berubah menjadi didominasi Syiah.

Program energi nuklir yang dijalankan Iran menambah kekhawatiran Arab Saudi. Terlebih pengganti Presiden Khatami, yakni Presiden Mahmoud Ahmadinejad dikenal lebih condong untuk mendominasi kawasan Teluk dan meningkatkan populasi Syiah di kawasan itu.

Pada Januari 2007, otoritas Saudi mengatakan kepada utusan Iran bahwa negara itu menempatkan kawasan Teluk dalam bahaya dengan memancing konflik dengan Amerika Serikat terkait Irak dan juga melalui program nuklirnya.

Tahun 2011, Arab Spring atau Kerusuhan Arab

Arab Saudi mengirimkan tentaranya untuk membantu Bahrain, sekutunya, yang dilanda unjuk rasa besar-besaran. Saudi khawatir oposisi Syiah di Bahrain akan bersekutu dengan Iran dengan memanfaatkan situasi itu. Saudi dan Bahrain kemudian menuding Iran sengaja menggerakkan aksi kekerasan terhadap polisi Bahrain.

Kawat diplomatik Amerika Serikat yang dibocorkan WikiLeaks menunjukkan bahwa para pemimpin Saudi, termasuk Raja Abdullah, mendorong AS untuk mengambil posisi tegas melawan program nuklir Iran.

Otoritas Saudi menuding sejumlah warga Syiah di Provinsi Timur, termasuk ulama Nimr Baqr al-Nimr yang dieksekusi mati pada 2 Januari lalu, bekerja sama dengan negara asing, merujuk pada Iran, dalam memancing pertikaian, setelah terjadi bentrokan antara polisi dan warga Syiah di kawasan itu.

Secara terpisah, AS mengklaim berhasil menggagalkan rencana pembunuhan Duta Besar Saudi untuk AS oleh Iran. Saat itu, otoritas Saudi mengatakan, bukti soal rencana pembunuhan itu sangat banyak dan menegaskan Iran akan mendapat balasannya.

Tahun 2012, Perang Pengaruh

Arab Saudi menjadi pendukung utama kelompok pemberontak Suriah yang berusaha menggulingkan rezim Presiden Bashar al-Assad, yang merupakan sekutu Iran. Saudi terang-terangan menuding Assad telah melakukan genosida dan menyebut Iran memanfaatkan situasi untuk menduduki Suriah. Iran menuding balik Saudi sebagai pendukung terorisme.

Pada Maret 2015, otoritas Saudi memulai serangan udara di Yaman untuk memerangi pemberontak Houthi, yang merupakan sekutu Iran, yang berniat mengambil alih pemerintahan. Saat itu, Saudi menuding Iran sengaja memanfaatkan Houthi untuk mengkudeta pemerintah Yaman yang kala itu dipimpin Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi. Lagi-lagi, Iran pun menuding serangan udara Saudi menargetkan banyak warga sipil di Yaman.

Tahun 2016, Eksekusi Mati Ulama Syiah Terkemuka

Pada 2 Januari lalu, Arab Saudi mengumumkan eksekusi mati ulama Syiah Nimr Baqr al-Nimr (56) yang dikenal kritis terhadap keluarga Kerajaan Saudi. Nimr dieksekusi mati bersama 46 narapidana lainnya, yang dinyatakan bersalah oleh Saudi atas dakwaan terorisme.

Eksekusi mati Nimr ini memicu unjuk rasa di wilayah Qatif, wilayah Saudi bagian timur, tempat sebagian besar kelompok minoritas Syiah tinggal. Nimr sendiri ditangkap di Qatif pada tahun 2012. Dia dianggap sebagai tokoh penggerak unjuk rasa antipemerintah di kawasan tersebut tahun 2011 lalu.

Aksi protes terjadi di wilayah Teheran, Iran, di mana kantor Kedutaan Besar Saudi diserang ratusan demonstran hingga memicu aksi pembakaran. Sekitar 40 orang ditangkap polisi Iran atas aksi anarkis itu. Sedangkan unjuk rasa berujung serangan terhadap Konsulat Saudi di Mashhad, Iran bagian timur laut berujung penangkapan 4 orang lainnya.

Pada 3 Januari, otoritas Saudi mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Iran. Saudi memberikan waktu 48 jam kepada seluruh diplomat Iran di wilayahnya untuk meninggalkan negara itu. Amerika Serikat, yang notabene sekutu Saudi, mengimbau kedua negara untuk menahan diri dan mengurangi ketegangan.

Pada 4 Januari, otoritas Iran menuding Saudi sengaja memicu ketegangan dengan memutuskan hubungan diplomatik. Iran juga menyebut pemutusan hubungan diplomatik itu sebagai tindakan tergesa-gesa dan tidak akan mengalihkan perhatian dunia dari kesalahan terbesar Saudi dalam mengeksekusi ulama Nimr.


(nvc/ita) 


Sumber : detik


Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Sejarah dan Riwayat Gejolak Kerajaan Arab Saudi dan Iran dalam 20 Tahun Terakhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini