Teruntuk Para Dokter Muslim,. Sebaiknya Baca Ini

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :









Berikut akan disampaikan secara berseri tentang sifat-sifat yang semestinya dimiliki oleh seorang dokter muslim : 
  1. Niat (yang ikhlas) dan mengharapkan pahala dari Allah.
  2. Amanah dan profesional dalam bekerja.
  3. Ihsan  dan  muraqabah (merasa diawasi oleh Allah).
  4. Tazkiyatun-nafs (pembesihan jiwa) dan muhasabah (introspeksi diri).
  5. Menuntut ilmu berkesinambungan dan berkelanjutan.
  6. Kepribadian yang istimewa dan akhlak yang baik; tawaddu’,  jujur, penyayang, adil, tolong menolong dan menyukai kebaikan bagi orang lain, malu berbuat dosa,  santun dan lemah lembut.
  7. Menghormati  hak-hak pasien.
  8. Tafaqquh fid-din (Mempelajari dan memahami hukum-hukum agama)terutama dalam permasalahan khusus yang terkait dengan kedokteran.
  9. Memberikan kepada setiap orang haknya masing-masing.
(1). Niat yang Ikhlas dan Berharap Pahala dari Allah

Pentingnya niat dalam amal dan mengharapkan pahala dari Allah

Sesungguhnya seorang yang belajar ilmu kedokteran hendaknya mengintrospeksi kembali  niatnya. Hal ini merupakan perkara yang sangat penting dan seyogyanya mendapatkan perhatian. Niat adalah pondasi  amal. Baiknya suatu amal ditentukan oleh dua syarat, yaitu; Ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla, dan mengikuti  sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Niat yang ikhlas karena Allah akan membawa amal-amal yang bersifat duniawi  menjadi ibadah kepada Allah, di mana seorang muslim senantiasa mengharapkan pahala dan dan ganjaran dari Allah baik di dunia maupun di akhirat.

Dalil-dalil syar’i

Dari Umar bin Khattab  Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ [متفق عليه

“Sesungguhnya setiap amal-amal itu tergantung dengan niat, dan sesungguhnya hanyalah bagi setiap orang akan mendapatkan  apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya, atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya untuk apa yang dia niatkan itu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Lebih mengutamakan pelayanan dari sekedar bayaran   

Sesungguhnya seorang dokter yang mencari wajah Allah dengan profesinya, maka Anda akan menemukannya sebagai orang yang sangat mementingkan pasiennya. Dia mencurahkan apa yang dimiliki dan dimampuinya demi kesehatan dan kebaikan pasien.

Dia mengobati pasien dengan  ilmu yang benar, tidak memberatkan pasien mengeluarkan  uang banyak, seperti melakukan pemeriksaan atau memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan berdasarkan ilmu kedokteran. Bahkan  kita menemukan dokter tersebut mengobati pasien dengan cara-cara yang sesuai dengan ilmu kedokteran yang benar di manapun dia bekerja.  Dengan semua itu dia mencari wajah Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Dia tidak mencari keterkenalan ataupun kekayaan. Namun apabila hal itu terjadi, maka itu semata-mata keutamaan dari Allah. Dia tidak tertipu dengan keterkenalan dan kekayaan itu. Orientasinya adalah keridhaan Allah, bukan keridhaan makhluk yang selera mereka cepat sekali berubah antara sore dan pagi hari.

(2). Amanah, Sungguh-Sungguh,  dan Profesional

Pentingnya amanah dan profesional dalam bekerja

Sesungguhnya seorang dokter muslim seyogyanya untuk tampil istimewa dengan mewujudkan sifat amanah dalam praktek kesehariannya. Bahkan dia wajib mewujudkan hal itu dalam seluruh sendi kehidupannya. Di antara perkara yang menguatkan  kesungguhan dan profesionalisme seorang dokter adalah mementingkan tugasnya, tidak bermalas-malasan ataupun membuang-buang waktu, menghormati hak-hak pasien dan profesional dalam mengurus dan memperhatikan pasien sesuai prosedur guna menjalankan amanah sebagai seorang dokter.

Dalil-dalil syar’i

Allah Ta’ala berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ * الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ 

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 1-2)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikul-nya) dan janjinya.” (Al-Ma’arij: 32).

Dalam sebuah hadits yang mulia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ 

“Sesungguhnya Allah menyukai apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan dengan sempurna (teliti)”. (HR. Baihaqi)

Keteladanan dan lingkungan kerja

Pelatihan bagi dokter dan praktek mengobati di awal karier di lingkungan kerja kesehatan sangat perlu diadakan oleh lembaga kesehatan  dengan mempraktekkan sifat amanah  dan kerja profesional. Setelah pertolongan dari Allah, hal ini punya andil besar menjadikan seorang dokter  mampu menerapkan prilaku ini (amanah dan profesional) dalam prakteknya  di masa yang akan datang.

(3). Ihsan dan Muraqabah (Merasa Diawasi Oleh Allah)

Pentingnya ihsan bagi seorang dokter

Dokter muslim selalu merasa diawasi oleh Allah dalam seluruh gerak-gerik kehidupannya sehingga dia menjadi orang yang bersemangat, bekerja sesuai prosedur, dan memperhatikan pasien dengan sebaik-baiknya. Dia melakukan hal itu tanpa ada sangkut paut karena pimpinan atau orang lain. Demikian itu karena dokter muslim istimewa dengan sebuah karakter mulia. Ketahuilah, hal itu adalah ihsan.
Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.

Dalil-dalil syar’i

Allah Ta’ala berfirman,

 إِنَّ اللهَ لاَ يَخْفَىَ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (Ali-Imran: 5)

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ 

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Al-Mukmin: 19)

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab Rhadiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya bekas perjalanan jauh, dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Dia duduk di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menempelkan kedua lututnya dengan kedua lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya dia atas kedua paha beliau. Lalu dia berkata, “Wahai Muhammad! Berita-hukan kepadaku tentang Islam!” Dan berkata, “Beritahukan kepadaku tentang iman!” Dan berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang ihsan!”  Maka beliau menjawab, “(Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, namun jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Kemudian orang itu pergi. Kami terdiam. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Umar, tahukah engkau orang yang bertanya itu?” Aku (Umar) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Sesungguh-nya dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian agama kalian”(HR: Muslim).

(4.) Tazkiyatun Nafs (membersihkan jiwa) dan Muhasabah (introspeksi diri)

Seputar Tazkiyatun-nafs dan Muhasabah bagi seorang dokter

Sesungguhnya seorang dokter muslim berkeinginan kuat untuk membersihkan jiwa dan mengintrospeksi diri, benar-benar memperhatikan hal ini dalam perangai dan interaksinya dengan pasien dan tim kesehatan yang lain. Di antara sarana untuk memberbersihkan jiwa yang dianjurkan Islam adalah beriman dan beramal shalih. Allah Ta’ala berfirman,

من عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Demikianlah, introspeksi diri dengan cara-cara yang benar yang jauh dari sikap berlebih-lebihan atau menyepelekan mempunyai arti yang besar dalam membentuk kebiasan baik seorang dokter muslim saat dia menjalankan  tugasnya.

Dalil-dalil syar’i

Allah Ta’ala berfrman,

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا 

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (as-Syams: 9-10).

Allah Ta’ala juga berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ 

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (Al-Muddatstsir: 38)

بَلِ الْإِنسَانُ عَلَى نَفْسِهِ،  بَصِيرَة وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَه 

Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri. meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (Al-Qiyamah: 14-15)

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ 

“Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah jasad  seluruhnya. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Ingatlah ia adalah hati.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr Rhadiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian, tidak pula rupa-rupa kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

(5) Menuntut Ilmu Berkesinambungan dan Berkelanjutan 

Pentingnya belajar kedokteran berkesinambungan 

Ilmu kedokteran termasuk ilmu yang berkembang cepat dengan banyaknya penemuan-penemuan ilmiah. Karena itu, suatu keharusan bagi seorang dokter untuk belajar terus menerus walaupun dia telah mencapai tingkatan ilmiah atau gelar paling tinggi, sehingga dia bekerja ditopang dengan ilmu yang benar. Hal itu akan terwujud setelah adanya pertolongan dari Allah dan Taufik-Nya, (di antaranya) dengan mengikuti perkembangan-perkembangan terbaru makalah-makalah ilmiah yang valid dan tulisan-tulisan ilmiah yang membahas suatu topik khusus, menghadiri seminar dan simposium ilmiah, mengkonsultasikan keadaan pasien kepada yang lebih tinggi ilmunya dan lebih ahli (spesialis/sub spesialis) dan mengikuti perkembangan pasien tersebut sehingga seorang dokter muslim benar-benar ahli dan mumpuni dalam bidang kedokteran yang digelutinya. Dan di saat menimba ilmu, dia berusaha untuk ikhlas dan mengharapkan pahala dari Allah.
Tambahan : Tidak ketinggalan pula termasuk semangat dalam mempelajari ilmu-ilmu islam yang mana ilmu ini yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akherat. Para dokter harus rajin duduk di majlis taklim yang menjelaskan islam dengan pemahaman yang benar.  Banyak dalil yang menjelaskan tentang hal ini, dan dalil-dalil tersebut berbicara tentang keutamaan mempelajari ilmu-ilmu tentang agama islam, melebihi ilmu-ilmu yang lainnya. Jadi selain anda semangat mempelajari ilmu kedokteran, maka anda harus lebih wajib bersemangat pula untuk mempelajari ilmu tentang islam.

http://3.bp.blogspot.com/-gEPSf8SSRHA/TsehE17LxII/AAAAAAAAANk/Du78qSLr_EE/s320/stethoscope.jpg 

Dalil-dalil syar’i

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُل رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

”Dan katakanlah, “Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengeta-huan” (Thaaha: 114)

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ 

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.“ (al-Mujadilah: 11)

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ 

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (Faathir: 28)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ 

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.”(HR: Muslim)

(6). Sosok Pribadi Istimewa & Berakhlak Mulia

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ 

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)
Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya” (Muttafaqun ‘Alaih).

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, “Rasulullah bukanlah orang yang buruk perangainya dan bukan pula orang yang suka berbicara kotor dan menyakitkan, beliau bersabda,

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقاً 

Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ 

“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat.” (HR: Abu Dawud).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab, “Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Beliau juga ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, Hadits Hasan Shahih)

Berikut adalah bentuk-bentuk akhlak-akhlak yang mulia,  ini sekadar sebagai contoh dan bukan merupakan pembatasan.

Tawaddu’ (rendah Hati)

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُم 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (Al-Hujurat: 13)

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى 

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (an-Najm: 32).

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ 

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ , وَمَا زَادَ اللهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إلا عزًّا , وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ 

Tidaklah harta itu berkurang karena sedekah, dan tidaklah seorang hamba meminta maaf kecuali Allah pasti menambahkan kemualiaan (kepadanya), dan tidaklah seseorang bersikap tawaddhu’ kecuali Allah pasti mengangkat derajatnya.” (HR: Muslim)

Jujur

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ 

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (at-Taubah: 119)

فَلَوْ صَدَقُوا اللهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ 

“Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقاً ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً 

Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Sesungguhnya ada seseorang yang senantiasa jujur sehingga ditulis (ditetapkan) di sisi Allah sebagai orang jujur. Sesungguhnya perbuatan dusta mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan mengantarkan ke neraka. Sesungguhnya ada seorang yang  senantiasa berdusta sehingga dia ditetapkan di sisi Allah sebagai seorang pendusta” (Muttafaqun ‘alaih).

Penyayang

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُل رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ 

“Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (Al-Mukminun: 118)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ 

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Ali-Imran: 159).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ 

“Sesungguhnya Allah hanya akan merahmati hamba-hamba-Nya yang memilik sifat penyayang” (HR: Bukhari).

Adil

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ 

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan” (An-Nahl: 90)

وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan hendaklah kamu berlaku adil, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Hujurat” 9)

Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللهِ عَلىَ مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ ، الَّذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِيْ حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيْهِمْ وَمَا وَلَّوْا

Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, yaitu orang-orang yang adil terhadap rakyat mereka, keluarga mereka, dan siapapun yang menjadi tanggung jawab mereka.” (HR: Muslim)

Tolong menolong dan menyukai kebaikan bagi orang lain

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ 


“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Maidah: 2)

Dari Ibnu Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshary al-Badry Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلََّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ 

“Barangsiapa menunjukkan kepada satu kebaikan, maka baginya pahala semisal pahala orang yang mengerjakannya.” (HR: Muslim)

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ 

Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang dari kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri” (Muttafaqun ‘Alaih)

Haya’ (malu berbuat dosa)

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah orang paling pemalu melebihi gadis pingitan di tempat pingitannya. Apabila beliau melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, kami mengetahuinya dari raut wajah beliau” (Muttafaqun ‘Alaih)

Dari Imran bin Husain dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِيْ إِلَّا بِخَيْرٍ 

“Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Santun dan lemah lembut

Allah  Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ ، وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ 

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fusshilat: 34-35)

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ 

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan Dia menyukai kelembutan dalam semua urusan.” (Muttafaqun ‘Alaih)

(7). Menghormati Hak-Hak Pasien

Sesungguhnya seorang dokter muslim menghormati pasiennya dan menjaga hak-hak pasien. Di antaranya, peduli dengan penderitaan pasien karena sakit yang dialaminya dan menentukan pengobatan dengan mempertimbangkan pendapat pasien dan perasaannya. Menjelaskan tindakan-tindakan medis dengan cara yang bisa dipahami dan mencukupi sehingga tidak ada ruang untuk terjadinya kerisauan atau kesalahpahaman dengan beberapa pemeriksaan yang dibutuhkan ataupun cara pengobatan yang diterapkan, dengan terlebih dahulu meminta izin kepada pasien yang bersangkutan. Memperhatikan kaidah-kaidah syar’i ketika memeriksa pasien wanita di saat kondisi darurat, tidak boleh membuka aurat laki-laki ataupun wanita kecuali dalam kondisi darurat. Demikian juga menjaga waktu pasien dan mempertimbangkan kebiasaannya, kewajiban-kewajibannya dalam keluarganya, pekerjaannya, dan studinya. Menjaga rahasia pasien sesuai ketentuan syar’i. Bersama itu mendo’akan dan meruqyah pasien dengan dengan do’a dan ruqyah yang di syariatkan.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk sebagian keluarganya, beliau mengusapnya dengan tangan kanan beliau dan berdo’a,

اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ البَأْسَ , اِشْفِ أَنْتَ الشَّافيِ  لَا شِفَاءَ   إِلَّا شِفَاؤُكَ , شِفَاءً  لَا يُغَادِرُ سَقَمًا 

“Ya Allah, Rabb sekalian manusia, hilangkanlah penyakit, sembuh-kanlah karena Engkaulah Dzat yang  menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari Abu Abdillah Utsman bin Abil ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, dia mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sakit yang dia rasakan pada tubuhnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

ضِعْ يَدَكَ عَلىَ الَّذِيْ يأْلَمُ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ : بِسْمِ اللهِ – ثَلَاثاً – وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ : أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللهِ وقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ 

“Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkanlah ‘Bismillah’–sebanyak tiga kali-, lalu ucapkan sebanyak  tujuh kali ‘Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan sakit yang aku dapati dan  aku takutkan’ “ (HR. Muslim)

(8)Tafaqquh Fid-Din Dalam Permasalahan Kedokteran

Pentingnya memahami fiqih kedokteran bagi seorang dokter

Seorang dokter muslim mempercayai pentingnya penerapan syariat dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk di antaranya perkara yang terkait dengan hukum-hukum fiqih dalam kondisi darurat saat seorang dokter muslim menjalankan tugasnya. Sebagai contoh, hukum Thaharah (bersuci) dan shalat bagi pasien. Terlihat sebagian pasien tidak tahu tentang hal ini, bahkan kebanyakan meninggalkan shalat di rumah sakit karena tidak adanya bimbingan mengenai hukum-hukum thaharah dan shalat bagi orang sakit. Dan seolah-olah hal ini bukan merupakan kewajiban seorang dokter, padahal nasehat bagi sesama muslim adalah bagian dari haknya.

Demikian pula seyogyanya diperhatikan penerapan pengajaran-pengajaran Islam, seperti mewajibkan dokter-dokter wanita dan perawat-perawat wanita untuk mengenakan jilbab syar’i, menjauhi ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan) sebagai bentuk ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Melaksanakan perintah-Nya dengan berusaha menundukkan pandangan baik bagi laki-laki maupun perempuan, menghormati aurat pasien, dan tidak membuka aurat kecuali dalam kondisi darurat dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah syar’i. Tafaqquh fid-din dalam semua hal yang terkait dengan tindakan kedokteran, karena Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Karena itu, seyogyanya untuk memperhatikan sisi ini dalam metode-metode pengajaran kuliah kedokteran di negara-negara Islam. Para dokter, ustadz, dan penasehat hendaknya menerapkan dan membiasakannya sehingga hukum syar’i merupakan sisi utama yang dipentingkan dalam pekerjaan dokter sehari-hari.
Dalil-dalil syar’i
Dari Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنْ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” (Muttafaqun ‘alaih).
(9). Memberikan Kepada Setiap Orang  Haknya Masing-Masing

 Sikap proporsional dalam kehidupan seorang dokter

Sesungguhnya sikap seimbang dan proporsional terhadap pekerjaan, keluarga, dan masyarakat dalam kehidupan seorang dokter adalah satu hal yang sangat penting agar seorang dokter tetap konsisten dan sukses.

Agama Islam adalah agama sempurna yang mengatur segala hal. Islam mengajak kepada sikap pertengahan dan adil sehingga di sana tidak ada sikap berlebihan ataupun mengentengkan. Dokter yang menelantarkan pekerjaannya bukanlah gambaran seorang dokter muslim. Begitu juga dokter yang menelantarkan keluarga dan anak-anaknya bukan pula gambaran seorang dokter muslim. Yang paling tepat  dan tidak diperselisihkan lagi adalah memberikan kepada setiap orang haknya masing-masing, memberikan sesuai porsinya, pandai mengatur waktu dan pekerjaan sehingga membantu untuk terwujudnya keseimbangan dalam keseharian seorang dokter.

 Dalil-dalil syar’i

Dari Rahb bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Salman (al-Farisi) dan Abu Darda, maka Salman menjenguk Abu Darda, Salman berkata, “Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atas dirimu, tubuhmu memiliki hak atas dirimu, keluargamu memiliki hak atas dirimu, maka berikanlah haknya masing-masing.” Kemudian Abu Darda  mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan menceritakan kejadian tersebut kepada beliau, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salman telah berkata benar.” (HR. Bukhari).

(Selesai)
*****
Diambil dari At-Thabiibul Muslimu Tamayyuzun wa Simaatun yang ditulis oleh Dr. Yusuf bin Abdillah at-Turky dan diterjemahkan oleh dr. Supriadi dengan judul  “ Dokter Muslim Istimewa dan Ungggul “


Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Teruntuk Para Dokter Muslim,. Sebaiknya Baca Ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini