Tradisi Kuno Tiongkok Yang Sangat Tidak Masuk Akal

0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
Artikel Terbaru Lainnya :









Saya, keturunan tionghoa. Ada berbagai macam peratuan yang harus diikuti, mulai dari yang sepele mengenai kehidupan sosial (misal harus menyapa keluarga dengan sebutan yang tepat) hingga pembagian warisan yang kompleks.

Namun dari segala macam adat dan tradisi kolot dan totok kami, yang menurut saya paling aneh dan tidak masuk akal adalah anak perempuan yang sudah menikah dianggap keluar dari keluarga perempuan dan masuk ke keluarga laki-laki. Kami anak perempuan dilarang mencampuri urusan keluarga terutama mengenai usaha keluarga.

Dengan adanya tradisi itu, seringkali anak perempuan dianggap sebelah mata bahkan didepan orangtuanya. Bahkan seringkali dianggap tidak berguna. Perilaku diskriminatif seringkali didapatkan anak perempuan. Misalnya saja jika jaman mama saya dulu (dan saya rasa generasi sebelumnya juga mengalami), karena kakek-nenek saya dulu tergolong kurang mampu pada jamannya jadi ketika kenaikan kelas pasti hanya adiknya mama (cowok) yang dibelikan buku pelajaran. Bagaimana dengan mama saya? Mama saya disuruh meminjam ke tetangga belakang rumah yang kebetulan sekelas. Jadi kalau ada PR ya harus ke sana untuk pinjam buku.

Belum lagi masalah kelanjutan pendidikan, kakek dan nenek saya lebih mengutamakan anak laki-lakinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi daripada anak perempuannya. Seringkali diucapkan oleh kakek nenek saya "buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi toh nanti kalau sudah besar diambil orang, yang penting itu anak laki-laki karena nanti yang ngerawat kita siapa lagi kalau bukan anak laki-laki". Bahkan ini juga sering diungkapkan kepada saya ketika beliau tahu saya kuliah (fyi kakek nenek saya masih ada hingga sekarang, lumayan sehat jadi masih suka komentar, dan berumur 91 tahun).

Memang untuk biaya masa tua orangtua (sakit, kebutuhan hidup, dkk) nantinya akan menjadi tanggung jawab anak laki-laki jika sesuai tradisi. Tetapi menurut saya bukankah orangtua adalah tanggung jawab semua anak karena mereka orangtua bersama bukan orangtua anak laki-laki saja?


Untungnya orangtua saya sudah agak sedikit modern. Mereka memiliki pola pikir yang terbalik dari kakek nenek saya. Jika kakek nenek saya mengutamakan anak laki-laki untuk sekolah ke jenjang lebih tinggi, papa mama saya malah mengutamakan anak perempuannya untuk sekolah lebih tinggi.

Tapi, saya disekolahkan lebih tinggi juga ada pengaruh dari tradisi itu. Papa mama saya sering mengatakan ini sejak saya masih kecil. Pendidikan untuk bekalmu nanti karena belum tentu suamimu nantinya akan selamanya diatas pasti akan ada masa dibawah, dan ketika dibawah kamu bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kami ga bisa bantu apa-apa kalau kamu sudah menikah karena ini semuanya nanti untuk anak laki-laki.


Tapi sepertinya tradisi tersebut sudah mulai luntur dijaman milenial ini, sudah banyak anak perempuan yang menduduki jabatan penting di perusahaan keluarganya. Banyak pula orangtua milenial yang sudah memberi perlakuan sama antara anak laki-laki dan perempuannya. Semoga tradisi kuno macam ini cepat menjadi sejarah dan kenang-kenangan saja.


Sebagai Orang keturunan Tionghoa, saya sangat ingin mengkritisi tradisi ini:

Ya, tradisi membakar uang "neraka". Saya sebenernya sedikit bingung dengan tujuan dari pembakaran uang tersebut. Katanya tujuannya adalah agar leluhur kita "kaya" di alam surga atau neraka. Terkadang tidak hanya uang yang dibakar, bahkan terkadang rumah dari kertas, perahu, pesawat, HP, buku dan kartu bank, apartemen, dsb

Untuk yang bakar HP, gimana ya kalau tiba-tiba ada telepon dari nomor HP yang dibakar?

Alasan pertama kenapa saya tidak setuju adalah global warming. Dengan membakar kertas, maka kita telah melepaskan gas beracun ke udara yang memperburuk pemanasan global. Ya memang sih, kontribusi satu pembakaran tidak begitu banyak. Tapi, bagaimana apabila ada ribuan orang yang melakukannya dan itu dilakukan berkali-kali?

Alasan kedua, mengotori lingkungan. Saya pernah mengikuti tradisi pembakaran itu di sebuah klenteng (Ya, klenteng, bukan Vihara, karena tradisi ini bukanlah tradisi Buddhis walaupun saya sendiri seorang Buddhis). Pada waktu itu, mereka membakar sebuah rumah kertas berukuran besar. Ketika sedang terbakar, angin sedang bertiup kencang sehingga abunya bertebarang ke rumah warga sekitar. Saya bahkan sampai tertunduk malu ketika melewati depan rumah mereka.

Alasan ketiga, membuang-buang uang di dunia nyata. Uang kertas yang akan dibakar harus dibeli menggunakan uang asli dan untuk membuat rumah dari kertas, dibutuhkan uang yang banyak karena susah membuatnya. Oleh karena itu, kita sama saja membakar "uang" yang asli. Sama seperti saya "menukarkan" uang asli dengan uang mainan di sebuah toko mainan.

Alasan keempat, hiperinflasi di surga dan neraka. Loh kok jadi ekonomi nih bang? Begini. kita harus mengetahui dulu apa itu inflasi. Inflasi adalah sebuah keadaan ekonomi dimana uang yang beredar memiliki nilai dan tingkat keberhargaan yang rendah sehingga berakibat pada kenaikan harga barang. Zimbabwe terkena inflasi parah di tahun 2008an karena pemerintah Zimbabwe terus mencetak uang untuk membiayai pengeluarannya tanpa dikontrol. Sehingga, jumlah uang yang beredar di masyarakat membludak hingga uang zimbabwe menjadi tidak berharga sama sekali dan worthless. Indonesia dapat mengontrol inflasi karena pemerintah dan Bank Indonesia mengontrol peredaran uang baru dan tidak seenaknya mengedarkan uang di masyarakat. Makanya negara tidak bisa mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk membayar hutang. Nah, karena tidak ada otoritas bank sentral di surga dan neraka yang mengatur peredaran uang, jadinya ya orang dapat membakar uang seenak udel sehingga jumlah uang beredar di surga dan neraka menjadi sangat banyak. Mungkin, sudah ada indikasinya dengan adanya uang "neraka" dengan nominal yang sangat besar. Apabila semua orang menjadi milyuner atau bahkan trilyuner, maka tidak ada yang spesial lagi kan dengan uang yang banyak. 1 telur saja bahkan bisa puluhan triliyun seperti di Zimbabwe. Jadi, tidak ada orang kaya bukan? Oleh karena itu, alih-alih membuat leluhur kaya, justru membuat surga dan neraka sebuah economic wasteland dimana kondisinya sama dengan di Zimbabwe dan Republik Weimar.

Menurut saya, lebih baik kita berkontribusi kepada leluhur kita dengan berdoa kepada mereka dan berbuat baik di dunia sehingga mereka bahagia disana melihat kita.

Nih buat yang ingin tahu lebih banyak:

Merci et Au Revoir!!

Redirect Notice



Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Tradisi Kuno Tiongkok Yang Sangat Tidak Masuk Akal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya sobat 🙂

Artikel Terkait Lainnya



Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini